Surplus Dagang Bukan Bukti Overcapacity
China juga membantah anggapan bahwa surplus perdagangan mencerminkan kelebihan kapasitas produksi. Menurut Beijing, banyak negara industri seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang, dan Inggris pernah menikmati surplus perdagangan dalam waktu lama.
Baca Juga:
Subsidi Konversi Motor Listrik, ALPERKLINAS: Masyarakat Butuh Insentif yang Mudah Diakses
Bahkan, Uni Eropa juga mencatat surplus besar di sektor otomotif, farmasi, dan kosmetik. China menegaskan pertumbuhan ekspornya didorong oleh meningkatnya inovasi, efisiensi manufaktur, serta tingginya permintaan global terhadap kendaraan listrik, panel surya, dan baterai.
Pemerintah China juga mengklaim tidak sengaja mengejar surplus perdagangan. Sebaliknya, China disebut telah menjadi importir terbesar kedua dunia selama 17 tahun berturut-turut serta memberikan fasilitas tarif nol persen kepada puluhan negara berkembang.
Tolak Narasi "China Shock 2.0"
Baca Juga:
Gawat...Modus Pakai Kartu Nelayan, Diduga Gudang Penimbunan BBM Solar Subsidi Di Desa Regemuk, Ranto Panjang Bebas Beroperasi
Dalam white paper tersebut, Beijing juga menolak narasi "China Shock 2.0" yang belakangan banyak digunakan di Barat untuk menggambarkan membanjirnya produk-produk manufaktur China. China justru menyebut perkembangan industrinya sebagai "China Opportunity 2.0", yakni peluang baru bagi dunia melalui inovasi teknologi, transisi energi hijau, serta investasi di negara berkembang.
Beijing mengklaim industri kendaraan listrik, baterai lithium, kecerdasan buatan (AI), hingga energi terbarukan berkembang berkat investasi riset yang besar dan persaingan pasar domestik yang sangat kompetitif, bukan semata-mata karena subsidi pemerintah. Di akhir dokumen, China menyerukan agar seluruh negara mempertahankan sistem perdagangan bebas, memperkuat WTO, menolak proteksionisme, serta menjaga kelancaran rantai pasok global melalui kerja sama internasional.
[Redaktur: Alpredo Gultom]