Indeks mencapai tertinggi sepanjang masa 35.631,19 pada 16 Agustus.
Sementara pada Jumat, ditutup dengan 34.326,46.
Baca Juga:
Trump Rilis Daftar Negara Penghambat Perdagangan AS, Indonesia Termasuk
Ancaman terbesar bagi Wall Street adalah Kepala Federal Reserve, Jerome Powell, menjauh dari kebijakan moneter yang longgar lebih cepat dari yang diharapkan karena lonjakan inflasi.
“Kita semua tahu bahwa banyak kesembronoan pasar ekuitas terkait dengan likuiditas yang telah disediakan The Fed. Jika itu akan dilakukan lebih cepat, berarti kenaikan suku bunga akan terjadi lebih cepat. Keduanya bukanlah hal yang positif bagi pasar ekuitas," tuturnya.
Siegel sangat prihatin tentang dampak pada saham yang sedang tumbuh, khususnya teknologi.
Baca Juga:
Film Indonesia Pabrik Gula Disambut Meriah di Amerika
Dia menyarankan Nasdaq yang sarat teknologi, bersiap untuk kerugian tajam.
“Akan ada tantangan untuk saham jangka panjang. Kemiringannya akan menuju nilai saham," ujarnya.
Menurutnya, pada saat inflasi, saham utilitas dan konsumen yang berkinerja buruk akan tetap kuat.