WahanaNews.co, Jakarta – Wakil Ketua Umum (Waketum) Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Arnod Sihite meminta pemerintah segera melakukan langkah antisipatif melalui efisiensi anggaran dan penguatan koordinasi antar kementerian dan lembaga guna menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Pernyataan tersebut disampaikan Arnod menanggapi paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang mengungkapkan kemungkinan defisit APBN melampaui batas 3 persen akibat tekanan global seperti konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga:
Perang AS - Israel dan Iran: KSPSI Tegaskan Alarm Nasional, Jaga Stabilitas Ekonomi dan Lindungi Pekerja
Dalam sidang kabinet yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto, Airlangga menjelaskan pemerintah telah menghitung sejumlah skenario yang dapat mempengaruhi posisi defisit anggaran.
“Artinya, dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit untuk kita pertahankan kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan (ekonomi),” ujar Airlangga dalam sidang kabinet pada Jumat, 13 Maret 2026, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Airlangga memaparkan bahwa perhitungan tersebut mempertimbangkan berbagai faktor seperti konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kondisi pertumbuhan ekonomi nasional.
Baca Juga:
Presiden Diminta Tinjau Ulang Impor 105.000 Mobil dari India, KSPSI: Jangan Korbankan Industri Nasional
Dalam salah satu skenario, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diperkirakan mencapai US$86 per barel, nilai tukar rupiah sekitar Rp17.000 per dolar AS, dan pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,3 persen. Dalam kondisi ini, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen terhadap PDB.
Sementara pada skenario paling pesimistis, harga minyak dunia dapat menembus US$115 per barel, nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.500 per dolar AS, serta pertumbuhan ekonomi berada di sekitar 5,2 persen. Dalam situasi tersebut, defisit anggaran berpotensi meningkat hingga 4,06 persen terhadap PDB.
Menanggapi hal tersebut, Arnod Sihite yang juga Anggota Tripartit Nasional itu menilai pemerintah perlu segera memperkuat langkah efisiensi anggaran serta memprioritaskan program yang benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat.