Nurul sendiri merupakan lulusan S1 di bidang teknik dan S2 di bidang kebijakan publik dan sosial dari Universitas Johns Hopkins di Amerika Serikat. Dia merupakan wakil presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) yang dipimpin Anwar.
Nurul gagal mendapat kursi parlemen Permatang Pauh, kubu lokal PKR, dari Perikatan Nasional salam pemilihan umum terakhir. Saat itu, ia hanya memperoleh 6 ribu suara. Padahal pada 2018, dia sempat menang dengan mengantongi 16 ribu suara.
Baca Juga:
Malaysia Cabut BMAD Serat Selulosa Asal Indonesia, Kemendag RI Prediksi Ekspor ke Malaysia Meningkat
Meski banyak yang keberatan, beberapa ahli mencoba menilai positif penunjukan tersebut. Nurul disebut sebagai orang yang kompeten di bidang politik. Dia pernah membuat kebijakan yang baik kala menangani sejumlah masalah di masa lalu.
"Saya juga tidak tertarik dengan Perdana Menteri yang menjadi menteri keuangan. Saya juga tidak tertarik dengan penunjukan (Nurul Izzah) ini. Tapi semua hal tentu sudah dipertimbangkan, reaksi atas pengangkatannya tidak beralasan," kata ekonom dan penasihat senior Khazanah Research Institute Jomo Kwame Sundram.
"Di dunia ideal, saya tidak akan menyetujui ini. Tapi dia punya kompetensi yang tidak diketahui banyak orang," katanya, seperti dikutip The Edge Financial Daily.
Baca Juga:
ABK Kapal Kayu di Batam Bawa Sabu dari Malaysia, Jika Sampai Jakarta Dibayar Rp300 Juta
Jomo pun berasumsi fakta bahwa Nurul adalah perempuan lah yang membuat orang berpikir dia tak akan mampu mengemban tugas tersebut.
"Tentu saja itu tidak dinyatakan secara langsung, namun ini adalah asumsi yang tersirat," ujarnya.
Sementara itu, ahli lainnya memandang penunjukan Nurul merupakan ajang pelatihan dia untuk menjadi calon pemimpin di masa mendatang.