Ia juga menegaskan Iran akan menempuh “pendekatan diplomasi untuk mengamankan kepentingan nasional Iran”.
Melalui pernyataan terpisah di media sosial X, Araghchi menyampaikan pesan kepada Washington agar mengedepankan prinsip saling menghormati.
Baca Juga:
Trump Mendadak Lunak, Iran Cukup Hentikan Program Nuklir 20 Tahun
“Iran memasuki dunia diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang kuat tentang tahun lalu. Kami terlibat dengan itikad baik dan teguh bagi hak-hak kami,” ucap Araghchi.
“Komitmen harus dihormati. Kedudukan yang setara, saling menghormati, dan kepentingan bersama bukanlah retorika -- itu adalah keharusan dan pilar dari kesepakatan yang bertahan lama,” lanjutnya.
Dari pihak Amerika Serikat, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan delegasi AS akan menjajaki kemungkinan “nol kapasitas nuklir” bagi Iran dalam perundingan di Oman.
Baca Juga:
Obama Bangga Kesepakatan Nuklir Iran 2015 Tak Picu Pertumpahan Darah
Leavitt juga kembali mengingatkan bahwa Presiden Donald Trump memiliki “banyak opsi selain diplomasi” dalam menghadapi Iran.
Pertemuan ini berlangsung kurang dari sebulan setelah gelombang unjuk rasa nasional di Iran terhadap kepemimpinan ulama, yang menurut kelompok hak asasi manusia ditindas secara keras hingga menyebabkan ribuan korban jiwa.
“Mereka sedang bernegosiasi,” kata Trump saat menanggapi isu Iran pada Kamis (5/2/2025) waktu setempat.