WahanaNews.co | Masyarakat adat di provinsi Saskatchewan
Kanada menemukan 751 kuburan tak bertanda di dekat bekas sekolah asrama
Katolik.
Temuan ini hanya beberapa minggu setelah penemuan serupa di
British Columbia, yang mengejutkan negara itu dan mendorong Perdana Menteri
Justin Trudeau untuk menyerukan pengakuan sejarah "rasisme sistemik"
Kanada.
Baca Juga:
Misi Dagang Kanada ke Indonesia, Kemendag RI Gelar Penjajakan Bisnis dan Seminar Ekspor
Pengungkapan itu sekali lagi menyoroti bab gelap dalam
sejarah Kanada, dan menghidupkan kembali seruan kepada Paus dan gereja untuk
meminta maaf atas pelecehan serta kekerasan yang diderita di sekolah-sekolah,
di mana siswa pribumi secara paksa berasimilasi ke dalam budaya dominan negara
itu.
"Sampai kemarin, kami telah mencapai 751 kuburan tak
bertanda di lokasi bekas sekolah asrama Marieval di provinsi Saskatchewan,"
kata Kepala Negara Pertama Cowessess Cadmus Delorme kepada wartawan seperti
dikutip dari France24, Jumat (25/6/2021).
Dia mengatakan bahwa kuburan mungkin pada satu waktu telah
ditandai, tetapi perwakilan Gereja Katolik menghapus batu nisan ini,
menambahkan bahwa melakukan itu adalah kejahatan di Kanada dan mereka
memperlakukan kuburan sebagai TKP.
Baca Juga:
Perundingan Indonesia-Canada CEPA Masuki Putaran ke-10, Kedua Negara Optimistis Selesaikan Kesepakatan
Perdana Menteri Justin Trudeau mengatakan dia sangat sedih
dengan penemuan baru di sekolah asrama Marieval.
Trudeau menyebut penemuan di provinsi British Columbia dan
Saskatchewan sebagai pengingat yang memalukan akan rasisme sistemik,
diskriminasi, dan ketidakadilan yang dihadapi dan terus dihadapi oleh
masyarakat adat di Kanada.
"Bersama-sama, kita harus mengakui kebenaran ini, belajar
dari masa lalu kita, dan berjalan di jalan rekonsiliasi bersama, sehingga kita
dapat membangun masa depan yang lebih baik," serunya.