“Orang yang mati dalam keadaan kaya, mati dalam keadaan malu,” demikian kutipan Carnegie yang ditulis ulang Gates dalam blognya.
Awalnya, Gates dan mantan istrinya Melinda berencana agar yayasan tersebut terus beroperasi bahkan setelah mereka tiada. Namun, pendekatan itu kini diubah total.
Baca Juga:
Bill Gates Gandeng Sri Mulyani di Dewan Yayasan Filantropi Global
Dalam wawancaranya dengan BBC Newshour, Gates menjelaskan bahwa akan ada generasi dermawan baru yang lebih relevan menangani tantangan global di masa depan.
“Ini masalah urgensi. Kita harus mengeluarkan dana besar sekarang, bukan menunda-nunda. Saya tahu bahwa pengeluaran ini sepenuhnya sejalan dengan nilai-nilai saya,” tegasnya.
Meski menyumbangkan hampir seluruh hartanya, posisi Gates sebagai salah satu orang terkaya di dunia nyatanya belum tergeser.
Baca Juga:
Pendiri Microsoft, Bill Gates Sebut Masa Depan Dunia Bergantung 3 Hal Ini
Menurut Bloomberg, ia tetap berada di peringkat kelima dunia dan masih berstatus triliuner. Namun, ia memastikan bahwa jumlah kekayaannya akan “mendekati nol” pada tahun 2045.
Bersama Paul Allen, Gates mendirikan Microsoft pada 1975 dan menjadikannya raksasa teknologi global. Ia sudah mundur secara bertahap dari perusahaan tersebut, mulai dari melepaskan posisi CEO pada 2000 hingga melepas jabatan ketua dewan pada 2014.
Gates juga mengaku terdorong oleh semangat filantropis dari sahabatnya, Warren Buffett, serta tokoh dermawan lainnya.