WAHANANEWS.CO, Jakarta - Pengakuan mengejutkan datang dari Pentagon yang menyebut Amerika Serikat belum memiliki pertahanan memadai untuk menghadapi ancaman senjata hipersonik milik Rusia dan China.
Pernyataan ini disampaikan dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat pada Senin (27/04/2026) dan menjadi sinyal kuat adanya celah serius dalam sistem keamanan nasional AS.
Baca Juga:
Makan Malam Elite Berubah Mencekam, Trump dan JD Vance Dievakuasi
Asisten Sekretaris Perang untuk Kebijakan Luar Angkasa Marc Berkowitz mengungkapkan bahwa sistem pertahanan saat ini masih sangat terbatas dan hanya dirancang untuk menghadapi ancaman kecil.
"Negara ini akan menghadapi masalah serius melawan rudal balistik dan tidak memiliki pertahanan terhadap senjata hipersonik atau rudal jelajah saat ini," ujar Berkowitz.
Kondisi tersebut membuat Pentagon mendorong percepatan pengembangan sistem pertahanan baru bernama Golden Dome yang dirancang untuk memperkuat perlindungan di darat hingga luar angkasa.
Baca Juga:
Rusia Tuduh AS Kejar Minyak di Balik Intervensi Venezuela dan Iran
Program ini sebelumnya diluncurkan pada awal masa jabatan Presiden Donald Trump pada Januari 2025 sebagai respons terhadap perkembangan teknologi militer negara pesaing.
Pemerintah AS mengusulkan anggaran besar untuk proyek ini dengan estimasi biaya antara US$ 175 miliar hingga US$ 185 miliar dalam kurun waktu satu dekade.
Michael Guetlein dari Pasukan Ruang Angkasa AS menyebut Rusia dan China terus mempercepat modernisasi senjata mereka, termasuk pengembangan kendaraan luncur hipersonik dan rudal jelajah canggih.
"Sistem ini dirancang untuk menantang kemampuan pelacakan dan keterlibatan sensor kami serta memastikan kapabilitas serangan yang responsif dan mampu bertahan," kata Guetlein.
Di sisi lain, Rusia menegaskan bahwa pengembangan senjata strategis tersebut merupakan respons atas keputusan Amerika Serikat yang keluar dari Perjanjian Rudal Anti-Balistik pada era Presiden George W. Bush.
Moskow menilai sistem pertahanan AS tetap menjadi ancaman terhadap keseimbangan nuklir global meskipun Washington menyebutnya hanya untuk menghadapi negara seperti Korea Utara atau Iran.
Tekanan terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat juga meningkat akibat konflik yang melibatkan AS-Israel dengan Iran yang menguras stok rudal pencegat.
Laporan internal menyebutkan bahwa persediaan sistem THAAD dan Patriot menipis dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan ke tingkat aman.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]