Pejabat pertahanan Israel menilai intensitas pembunuhan terhadap pengunjuk rasa di Iran mulai menurun akibat tindakan keras pemerintah dan pemutusan internet nasional sejak Ahad (12/1/2026).
Gelombang protes anti-pemerintah yang berlangsung sejak akhir Desember itu disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa dekade terakhir di Iran.
Baca Juga:
Machado Klaim Serahkan Nobel Perdamaian ke Trump dalam Pertemuan Politik
Iran sempat menutup wilayah udaranya untuk penerbangan komersial pada Rabu malam (15/1/2026) sebelum akhirnya dibuka kembali.
Di sela potensi penundaan serangan, Pentagon memanfaatkan waktu untuk mengirim tambahan persenjataan dan sistem pertahanan ke kawasan Timur Tengah.
Kapal induk Abraham Lincoln beserta kapal pengawalnya berlayar dari Laut Cina Selatan menuju Timur Tengah dengan estimasi waktu sekitar satu minggu.
Baca Juga:
Trump Mulai Nikmati Minyak Venezuela, Penjualan Perdana Tembus Rp 8,4 Triliun
Selain itu, sejumlah pesawat tempur, pesawat serang, dan pesawat pengisi bahan bakar mulai dialirkan ke kawasan, sebagian besar dari Eropa.
Pentagon juga memperkuat sistem pertahanan udara, termasuk pengiriman rudal pencegat untuk melindungi pangkalan strategis seperti Al Udeid di Qatar.
Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi kemungkinan balasan Iran jika Amerika Serikat menyerang, termasuk serangan ke pangkalan AS di Qatar, Irak, Suriah, maupun ke Israel.