WahanaNews.co | Para saksi mata pembantaian di sebuah pusat penitipan anak di Thailand menceritakan momen mengerikan ketika seorang mantan petugas polisi menerobos masuk dan menyerang staf dan anak-anak.
Nanticha Panchum, kepala guru di tempat penitipan anak itu, mengatakan bahwa setelah mengatur anak-anak untuk tidur siang, ia hendak membuat makan siang tatkala mendengar lima suara tembakan.
Baca Juga:
Gempa Myanmar: 15 Korban Diduga Masih Hidup di Bawah Reruntuhan Gedung
Dilansir dari BBC, biasanya ada 92 anak-anak di pusat itu, tetapi karena bus bersama sedang mogok dan cuaca hujan, hanya ada 24 anak di lokasi pada saat serangan.
Hanya satu anak yang selamat, kata Nanticha.
"Ini sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan ... Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Saya benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun saat ini," katanya.
Baca Juga:
Kesehatan Paus Fransiskus Membaik, Panjatkan Doa Untuk Myanmar, Thailand, dan Korsel
Salah satu guru lain mengenali si penyerang sebagai orang tua dari seorang anak di PAUD itu, katanya - meskipun anak tersebut sudah tidak bersekolah selama sebulan.
Nanticha mengatakan pria tersebut tidak pernah kelihatan tidak sehat, dan menambahkan ia selalu berlaku sopan ketika mengantar putranya dan kadang-kadang hampir terlalu banyak bicara.
Tetapi pada hari Kamis (06/10), Nanticha menceritakan seorang kolega berkata kepadanya bahwa mata pria itu juling dan ia tidak banyak bicara.