"Dengan terbang di bawah radar, rudal itu bisa menghindari deteksi awal dan baru muncul di sensor di akhir fase terbang, membuat kesempatan mencegat sangat terbatas," ujar Patrycja Bazylczyk dari Missile Defence Project, menekankan perlunya sensor luar angkasa yang lebih kuat bagi negara-negara Barat.
Dalam skenario perang, muncul pertanyaan apakah serangan menggunakan hulu ledak nuklir atau konvensional, dengan Tom Sharpe, mantan Komandan Angkatan Laut Kerajaan Bersatu, menyatakan hipersonik tidak mengubah sifat perang, namun memperpendek kerangka waktu operasi, sehingga deteksi dan respons menjadi lebih menantang.
Baca Juga:
Rusia Gempur Ukraina dengan Rudal Hipersonik dari Jet Bomber Su-34
Beberapa pakar meyakini kehebohan soal hipersonik berlebihan, walau kecepatan dan kemampuan manuver membuat senjata ini efektif melawan target berharga, dan energi kinetiknya berpengaruh pada dampak serangan, meski masih ada cara bertahan dari serangan hipersonik dengan perlindungan kapal dan citra satelit terkini yang mahal.
Rusia dan China telah memimpin pengembangan, dengan Putin meluncurkan rudal Oreshnik Mach 10 pada November 2024 dan menekankan produksi massal Kinzhal yang diklaim tak bisa dicegat, sedangkan Avangard dianggap berpotensi menghadapi sistem pertahanan AS, meski kapasitas produksinya terbatas.
China menegaskan dominasinya dengan GDF-600 pada akhir 2024, kendaraan hipersonik dengan muatan 1.200 kilogram dan sub-munisi yang bisa mencapai Mach 7 (8.642 km per jam), sementara Kerajaan Bersatu mencoba mengejar ketertinggalan melalui uji coba propulsi besar-besaran kolaborasi dengan AS, namun masih membutuhkan bertahun-tahun hingga senjata siap.
Baca Juga:
Tegang! 12 Jet Tempur dan Bomber Korea Utara Dihadang 30 Jet Tempur Korsel
Freer menekankan Barat harus fokus membangun pertahanan kuat sekaligus kemampuan menyerang balik sistem peluncuran musuh untuk membatasi kerusakan, dengan Tom Sharpe menambahkan bahwa kedua belah pihak masih sama-sama kesulitan dan belum ada yang sempurna dalam perlombaan hipersonik. (Sumber: BBC)
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]