Proyek ini ditargetkan akan rampung sepenuhnya pada tahun 2030.
Ke depan, pulau terapung ini akan difungsikan sebagai lokasi pengujian laut terbuka untuk sistem penambangan laut dalam, peralatan kelautan penting, hingga fasilitas minyak dan gas lepas pantai.
Baca Juga:
Airlangga Tandatangani Perjanjian Pendirian WAICO, RI Masuk Organisasi AI Dunia
Kehadirannya diharapkan mampu mempercepat proses komersialisasi sumber daya laut sekaligus membuka pemahaman baru tentang evolusi ekosistem serta asal-usul kehidupan di samudra.
Proyek ini dikembangkan oleh Universitas Shanghai Jiao Tong (SJTU) dengan menggabungkan kemampuan operasional lepas pantai dan dukungan darat dalam satu sistem penelitian terpadu.
Dengan sistem tersebut, para ilmuwan dan insinyur dapat melakukan pengujian teknologi langsung di lingkungan laut sebenarnya tanpa bergantung pada laboratorium konvensional atau perairan dekat pantai.
Baca Juga:
Tak Hanya Banjir, China Kini Diteror 900 Ular Berbisa yang Lepas dari Peternakan
Pendekatan ini disebut menjadi terobosan penting dalam dunia riset karena memungkinkan eksperimen dilakukan secara realistis di laut lepas.
Selain untuk penelitian teknologi, platform ini juga diharapkan berkontribusi besar dalam bidang meteorologi.
Data yang dihasilkan nantinya akan digunakan untuk meningkatkan akurasi model prakiraan topan sehingga dapat memperkuat sistem mitigasi bencana di wilayah pesisir.