WAHANANEWS.CO, Jakarta - Inggris tengah mempercepat pembicaraan strategis dengan Denmark terkait rencana penjualan kapal perang, seiring meningkatnya ancaman keamanan dari Rusia di kawasan Atlantik Utara.
Upaya ini juga berlangsung di tengah memanasnya hubungan transatlantik akibat pernyataan kontroversial mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan keinginannya untuk menguasai Greenland.
Baca Juga:
Dewan Perdamaian Trump Bertambah Anggota, Indonesia Turut Bergabung
Menteri Pertahanan Inggris John Healey dijadwalkan bertemu dengan Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen di Kopenhagen pada Rabu.
Sejumlah sumber yang mengetahui agenda tersebut menyebutkan, pertemuan ini akan membahas peluang kesepakatan penjualan fregat Tipe 31 buatan Babcock International Group kepada Denmark.
Persaingan ketat pun terjadi dalam perebutan kontrak strategis ini. Inggris harus berhadapan langsung dengan Prancis, yang juga mengajukan tawaran kapal perang kepada Denmark.
Baca Juga:
Trump Tak Mundur soal Greenland, Sekutu Eropa Tertekan
Sebagai bagian dari pendekatan diplomatik dan industri pertahanannya, Prancis bahkan mengirimkan salah satu fregat milik Naval Group SA ke Kopenhagen pekan ini.
Kapal tersebut digunakan sebagai ajang promosi dengan menjamu anggota parlemen Denmark, pelaku usaha, serta Menteri Perdagangan setempat.
Sementara Prancis menawarkan pengiriman kapal perang pada 2030, Inggris menilai keunggulan utamanya terletak pada interoperabilitas.
London menekankan bahwa Denmark dan Norwegia yang tahun lalu telah membeli fregat Type 26 buatan Inggris akan lebih mudah melakukan patroli bersama di kawasan utara jika menggunakan platform kapal yang sejenis.
Pertemuan pertahanan yang telah lama direncanakan ini berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas Rusia di wilayah Atlantik dan Baltik.
Aktivitas tersebut mencakup pengerahan kapal mata-mata hingga armada yang diduga melanggar sanksi internasional.
Negara-negara Nordik juga menaruh kecurigaan kuat terhadap keterlibatan Rusia dalam sejumlah insiden perusakan infrastruktur bawah laut di Laut Baltik, termasuk jaringan listrik, kabel telekomunikasi, serta pipa gas.
Di sisi lain, dinamika geopolitik kian rumit dengan munculnya ancaman Trump untuk merebut Greenland wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark secara paksa apabila gagal membelinya.
Pernyataan tersebut memicu ketegangan di dalam NATO, mengingat Denmark dan Amerika Serikat sama-sama merupakan anggota aliansi militer tersebut.
Namun demikian, sumber yang mengetahui pembicaraan di Kopenhagen menegaskan bahwa agenda pertemuan ini tidak berkaitan dengan upaya mempertahankan Greenland dari kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyatakan keyakinannya bahwa Presiden AS tidak akan benar-benar menindaklanjuti ancaman tersebut.
Perundingan mengenai potensi penjualan kapal perang ini sebenarnya telah berjalan selama beberapa bulan.
Akan tetapi, ancaman Trump terhadap Greenland, ditambah rencananya memberlakukan tarif terhadap Eropa serta kritik terbuka yang diarahkan khusus kepada Inggris, semakin menegaskan urgensi penguatan kerja sama pertahanan di antara negara-negara Eropa.
Dalam pernyataan resmi yang tidak menyinggung isu Greenland, Kementerian Pertahanan Inggris menyebutkan bahwa Healey dan Lund Poulsen akan membahas langkah-langkah mempererat kerja sama untuk menghadapi ancaman yang meningkat di kawasan Baltik dan wilayah utara.
Pembahasan juga mencakup kolaborasi industri pertahanan, produksi sistem anti-drone, serta dukungan berkelanjutan bagi Ukraina.
Kedua negara turut merencanakan serangkaian latihan militer bersama hingga akhir tahun ini.
Selain itu, Inggris dan Denmark berupaya mempercepat pengiriman sistem pertahanan udara ke Ukraina guna membantu negara tersebut melindungi infrastruktur energi dari serangan Rusia yang terus berlanjut.
"Di era ancaman baru ini, sekarang adalah era kekuatan keras, diplomasi yang pasti, dan aliansi yang kuat," kata Healey dalam pernyataan tersebut. "Denmark dan Inggris meningkatkan keamanan Eropa."
Langkah ini menyusul pertemuan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen dengan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper di London pada Senin.
Usai pertemuan itu, Rasmussen menegaskan pentingnya sikap tegas negara-negara pendukung hukum internasional.
Ia menyampaikan kepada wartawan bahwa "sangat penting bagi kita semua yang mendukung tatanan hukum internasional untuk bersuara, untuk menunjukkan kepada Trump bahwa ini bukan jalan yang bisa terus Anda tempuh."
Sementara itu, Cooper yang juga membahas isu Greenland dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan kepada parlemen Inggris bahwa ancaman tarif yang dilontarkan Trump terhadap sekutu Eropa "bukanlah cara yang tepat untuk memperlakukan sekutu."
[Redaktur: Ajat Sudrajat]