WAHANANEWS.CO, Jakarta - Dominasi udara Amerika Serikat mulai dipertanyakan, konflik Timur Tengah yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran memasuki pekan keempat dengan kerugian militer yang mengejutkan pada Jumat (27/3/2026).
Konflik yang pecah sejak Jumat (28/2/2026) ini tidak hanya memperpanjang eskalasi perang, tetapi juga mengguncang asumsi lama tentang superioritas kekuatan udara di medan tempur modern.
Baca Juga:
Hanya 36 Persen Warga AS Masih Dukung Trump
Sejak awal perang, militer AS tercatat kehilangan sedikitnya 16 pesawat, baik jet tempur maupun drone, dalam berbagai insiden tempur dan kecelakaan operasional.
Kerugian tersebut diperparah dengan rusaknya sejumlah aset darat, termasuk sistem radar pertahanan canggih yang menjadi tulang punggung deteksi dan perlindungan dari serangan rudal.
Jumlah kehilangan ini dinilai signifikan karena melampaui catatan kerugian AS dalam operasi militer besar sebelumnya seperti di Libya dan Irak.
Baca Juga:
AS Tiba-tiba Ajukan 15 Poin ke Iran, Ada Tawaran Besar di Balik Gencatan Senjata
Tingginya angka kerugian ini diduga berkaitan dengan intensitas serangan yang jauh lebih besar dibandingkan kampanye militer sebelumnya.
Salah satu insiden yang menyita perhatian adalah lumpuhnya jet tempur siluman F-35 Lightning II saat menjalankan misi di wilayah Iran.
Pada Rabu (19/3/2026), sebuah F-35 milik Angkatan Udara AS terpaksa melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara di Timur Tengah setelah terkena tembakan yang diduga berasal dari Iran.
“Pesawat itu sedang menjalankan misi tempur di atas Iran ketika terpaksa melakukan pendaratan darurat,” ujar Kapten Tim Hawkins dari Komando Pusat AS.
Ia menjelaskan bahwa pesawat berhasil mendarat dengan selamat dan pilot berada dalam kondisi stabil.
“Pesawat mendarat dengan selamat, dan pilot dalam kondisi stabil,” lanjutnya.
Insiden tersebut kini masih dalam penyelidikan lebih lanjut oleh otoritas militer AS.
Laporan menyebutkan pesawat kemungkinan terkena rudal permukaan-ke-udara 358 berpemandu inframerah milik Iran yang tidak terdeteksi radar.
Sistem rudal ini membuat pilot tidak menerima peringatan dini saat sedang dibidik.
Kerugian besar juga terjadi pada armada pendukung udara.
Pada Rabu (12/3/2026), pesawat pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker jatuh di Irak Barat dan menewaskan enam awak di dalamnya.
Penyebab kecelakaan belum dipastikan, namun terdapat dugaan tabrakan di udara setelah satu unit KC-135 lainnya melakukan pendaratan darurat di Tel Aviv pada hari yang sama.
Sehari setelahnya, lima unit KC-135 lainnya dilaporkan mengalami kerusakan di darat akibat serangan rudal Iran di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi pada Kamis (13/3/2026).
Insiden lain yang tak kalah mengejutkan adalah jatuhnya tiga jet tempur F-15 Eagle akibat salah tembak di wilayah Kuwait.
“Pesawat-pesawat Eagle jatuh di atas Kuwait karena insiden salah tembak yang nyata,” tulis pernyataan resmi Komando Pusat AS.
Peristiwa ini terjadi di tengah intensitas pertempuran tinggi yang melibatkan serangan pesawat tempur, rudal balistik, dan drone Iran.
“Jet tempur USAF secara tidak sengaja ditembak jatuh oleh pertahanan udara Kuwait,” sambung pernyataan tersebut.
Di sektor pesawat tanpa awak, sekitar 12 unit drone MQ-9 Reaper dilaporkan hancur baik saat beroperasi di udara maupun ketika berada di pangkalan.
Drone dengan nilai sekitar 16 juta dollar AS per unit tersebut menjadi salah satu kerugian besar dalam konflik ini.
Selain itu, sistem pertahanan darat AS juga mengalami kerusakan signifikan.
Radar jarak jauh AN/FPS-132 senilai 1,1 miliar dollar AS di Qatar dilaporkan rusak parah akibat serangan Iran.
Sementara itu, radar AN/FPS-132 lainnya yang menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal THAAD di Yordania dilaporkan hancur.
Kerusakan serupa juga terjadi pada sistem radar THAAD yang ditempatkan di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]