WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang kekhawatiran soal kondisi mental Presiden Amerika Serikat kembali memuncak setelah serangkaian pernyataan ekstrem dan tidak teratur memicu perdebatan luas lintas politik dalam beberapa pekan terakhir, Rabu (15/4/2026).
Dalam sejumlah pernyataan publik, Donald Trump melontarkan ancaman keras termasuk menyebut kemungkinan “menghapus Iran dari peta” hingga peringatan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika konflik meningkat, yang dinilai banyak pihak sebagai retorika yang kian sulit dipahami dan cenderung agresif.
Baca Juga:
Trump Sentil Paus Leo XIV soal Iran, Klaim 42 Ribu Warga Tewas dalam Dua Bulan
Perkembangan ini memperkuat persepsi sebagian kalangan bahwa gaya komunikasi Trump telah melampaui batas retorika politik konvensional dan memicu pertanyaan serius mengenai kondisi mentalnya di tengah situasi geopolitik yang sensitif.
Namun demikian, Gedung Putih membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa Presiden tetap berada dalam kondisi prima secara fisik maupun mental.
"Ketajaman Presiden Trump, energi yang tak tertandingi, dan aksesibilitas historisnya sangat kontras dengan apa yang kita lihat selama empat tahun terakhir," ujar juru bicara kepresidenan Davis Ingle.
Baca Juga:
Operasi Blokade Dimulai, Trump Ancam Hancurkan Kapal di Selat Hormuz
Di sisi lain, kritik tajam justru datang dari berbagai spektrum, termasuk tokoh konservatif dan mantan sekutu politik Trump yang mulai mempertanyakan stabilitas emosionalnya.
"Itu bukan retorika keras, melainkan kegilaan," kata mantan anggota DPR dari Partai Republik, Marjorie Taylor Greene.
Penilaian serupa juga disampaikan oleh Ty Cobb, mantan pengacara Trump di Gedung Putih, yang menilai perilaku tersebut telah melampaui batas kewajaran seorang kepala negara.
"Ia adalah seorang pria yang jelas-jelas gila," ujarnya.
Kritik tidak berhenti di situ, karena mantan sekretaris pers Gedung Putih Stephanie Grisham turut menilai kondisi Trump tidak dalam keadaan sehat.
"Dia jelas tidak sehat," ucapnya.
Dari kubu oposisi, tekanan politik meningkat dengan munculnya kembali wacana penggunaan Amandemen ke-25 untuk mencopot presiden jika dianggap tidak mampu menjalankan tugasnya.
"Trump adalah orang yang sangat sakit," kata Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer.
Sementara itu, Pemimpin Demokrat di DPR Hakeem Jeffries menilai situasi telah melewati batas yang dapat ditoleransi dalam kepemimpinan nasional.
"Presiden tidak waras dan di luar kendali," ujarnya.
Desakan evaluasi medis resmi juga mencuat, termasuk dari anggota DPR Jamie Raskin yang menyoroti indikasi penurunan kognitif serta pola komunikasi yang dinilai semakin tidak koheren dan mengancam.
Di tengah kritik tersebut, sebagian pendukung Trump justru melihat perilaku itu sebagai bagian dari strategi politik yang disengaja untuk menciptakan tekanan dalam diplomasi internasional.
"Trump tahu persis apa yang dia lakukan," kata kolumnis Liz Peek.
Trump sendiri merespons berbagai kritik dengan nada keras melalui media sosial, menyebut para pengkritiknya memiliki “IQ rendah” dan menuding mereka sebagai pihak yang mencari sensasi.
Di sisi lain, data survei menunjukkan kekhawatiran publik terus meningkat, dengan jajak pendapat Reuters/Ipsos pada Februari mencatat 61 persen warga Amerika menilai Trump semakin tidak stabil seiring bertambahnya usia, sementara hanya 45 persen yang menganggapnya tetap tajam secara mental, turun dari 54 persen pada 2023.
Perdebatan mengenai kesehatan mental presiden bukanlah hal baru dalam sejarah Amerika Serikat, karena sejumlah pemimpin sebelumnya seperti Abraham Lincoln hingga Ronald Reagan juga pernah menghadapi spekulasi serupa dalam konteks yang berbeda.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]