“Bertujuan memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, membatasi program rudalnya, serta menghilangkan ancaman terhadap Amerika Serikat dan sekutunya,” demikian dinyatakan Trump mengenai operasi militer yang diperkirakan akan berlangsung selama berminggu-minggu.
Didorong pula rakyat Iran untuk bangkit dan menggulingkan pemerintah mereka oleh Trump dalam pernyataan terpisahnya.
Baca Juga:
Jika Agresi Militer Berlanjut, Iran Ancam Serangan Balasan ke AS
Dituding sebagai “perang pilihan” oleh Partai Demokrat, langkah militer tersebut dinilai mengabaikan jalur diplomasi yang sebelumnya masih disebut memiliki peluang oleh mediator Oman.
Berulang kali tanpa memaparkan bukti konkret, ditegaskan Trump bahwa Iran berada di jalur untuk segera memiliki kemampuan menyerang Amerika Serikat dengan rudal balistik.
Namun klaim tersebut tidak didukung laporan intelijen AS dan dinilai berlebihan oleh sejumlah sumber yang mengetahui isi laporan tersebut.
Baca Juga:
Trump Tak Puas Proposal Damai Iran, Sebut AS Punya Dua Opsi Akhiri Perang
Semakin mengemuka pertanyaan mengenai dasar pembenaran perang setelah militer AS pada Minggu (2/3/2026) mengumumkan korban pertama di pihak Amerika sejak konflik pecah.
Dinyatakan oleh United States Central Command bahwa tiga personel militer AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius, sementara beberapa tentara lainnya menderita luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak.
Dihantam lebih dari 1.000 target Iran oleh pesawat dan kapal perang AS sejak Trump memerintahkan dimulainya operasi tempur besar-besaran, termasuk pengerahan pembom siluman B-2 yang menjatuhkan bom seberat 2.000 pon atau sekitar 900 kilogram ke fasilitas rudal bawah tanah Iran yang diperkuat.