WAHANANEWS.CO, Jakarta - Israel menegaskan tak akan menghentikan serangan ke Hizbullah meski gencatan senjata tengah berlangsung, mempertegas eskalasi konflik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sehari setelah serangan besar ke wilayah Lebanon pada Rabu (8/4/2025) yang dilaporkan menewaskan ratusan orang.
Baca Juga:
Gencatan Senjata Baru Seumur Jagung, Israel Serang Beirut hinggaTewaskan 112 Orang
Serangan tersebut tetap dilancarkan meskipun sebelumnya telah tercapai kesepakatan gencatan senjata yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pernyataan resminya yang dikutip AFP, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Hizbullah akan terus berlanjut tanpa kompromi.
“Kami AKAN terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, presisi, dan tekad,” ujar Netanyahu.
Baca Juga:
AS dan Iran Gencatan Senjata, Respons Israel Katakan Ini!
Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan memberi ruang bagi pihak yang dianggap mengancam warganya.
“Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel — kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di wilayah utara,” lanjutnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan dalam unggahan berbahasa Ibrani yang menegaskan komitmen Israel untuk melanjutkan operasi militer.
Militer Israel, Israel Defense Forces (IDF), mengklaim telah menewaskan Ali Yusuf Harshi yang disebut sebagai sekretaris sekaligus keponakan pemimpin Hizbullah, Naim Qassem.
Selain itu, Israel juga melancarkan serangan ke berbagai infrastruktur militer Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.
“IDF menyerang serangkaian infrastruktur di Lebanon selatan: titik penyeberangan yang digunakan untuk memindahkan ribuan senjata, roket dan peluncur, serta depot senjata, lokasi peluncuran, dan pusat komando Hizbullah,” kata Netanyahu.
Konflik ini terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran yang selama ini menjadi pendukung Hizbullah.
Namun, muncul perbedaan interpretasi terkait cakupan kesepakatan tersebut, khususnya apakah mencakup wilayah Lebanon.
Israel menyatakan bahwa kesepakatan tersebut tidak mencakup Lebanon, sementara Iran menilai serangan Israel sebagai pelanggaran serius terhadap perjanjian.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh turut mengecam keras serangan tersebut dan menilai sikap Amerika Serikat tidak konsisten.
"Mereka tidak bisa memiliki keduanya secara bersamaan (gencatan senjata dan serangan ke Lebanon). Keduanya saling bertentangan, itu sudah cukup jelas,” ujarnya.
Di sisi lain, Hizbullah mengklaim telah meluncurkan serangan roket ke wilayah utara Israel sebagai respons atas serangan besar yang dilakukan Israel.
Serangan balasan tersebut menjadi aksi pertama Hizbullah sejak diumumkannya kesepakatan gencatan senjata.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]