WAHANANEWS.CO, Jakarta - Gelombang protes besar yang meluas ke seluruh Iran dibalas rezim dengan tembakan peluru tajam, dengan laporan awal menyebut sedikitnya ratusan demonstran tewas hanya dalam hitungan hari.
“Hanya enam rumah sakit di Teheran yang mencatat setidaknya 217 kematian demonstran, sebagian besar akibat peluru tajam,” kata seorang dokter di Teheran kepada TIME dengan syarat anonim pada pekan ini.
Baca Juga:
Di Tengah Gelombang Protes, Iran Gantung Pria yang Dituduh Agen Mossad
Lonjakan korban jiwa tersebut terjadi setelah pemerintah Iran melakukan penutupan hampir total akses internet dan jaringan telepon nasional sejak Kamis (9/1/2025) malam.
Jika angka tersebut terkonfirmasi, situasi ini menandai eskalasi penindakan paling keras sejak demonstrasi pecah dan sekaligus menjadi tantangan langsung bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Rezim akan menanggung akibatnya jika membunuh para demonstran,” peringatkan Trump pada hari yang sama ketika korban jiwa mulai dilaporkan meningkat.
Baca Juga:
Ketegangan di Timur Tengah Trump Beri Peringatan Keras, Iran Siaga Tempur Level Tertinggi
Aksi unjuk rasa yang kini meluas ke seluruh 31 provinsi Iran awalnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi.
Dalam perkembangannya, demonstrasi tersebut berubah menjadi tuntutan terbuka untuk menggulingkan rezim Islam otoriter yang berkuasa sejak 1979 di negara berpenduduk sekitar 92 juta jiwa itu.
Sebagian besar demonstrasi berlangsung damai dengan teriakan “Kebebasan” dan “Matilah Diktator,” meski sejumlah gedung pemerintah dilaporkan mengalami perusakan.
Disebutkan dokter tersebut, otoritas memindahkan jenazah korban dari rumah sakit pada Jumat (10/1/2025).
Sebagian besar korban tewas merupakan kalangan muda, termasuk beberapa orang yang ditembak mati di luar kantor polisi di Teheran utara.
“Mereka tewas di tempat kejadian setelah pasukan keamanan menembakkan senapan mesin,” ujarnya.
Aktivis melaporkan setidaknya 30 orang ditembak dalam insiden di lokasi tersebut.
Kelompok hak asasi manusia pada Jumat (10/1/2025) melaporkan jumlah korban tewas lebih rendah dibanding laporan dokter, meski perbedaan ini diduga akibat metode pendataan yang berbeda.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Washington DC melaporkan sedikitnya 63 kematian sejak awal protes, termasuk 49 warga sipil.
TIME menyatakan belum dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.
Situasi semakin tegang ketika rezim Iran menyiarkan pernyataan bernada ancaman melalui media resmi.
“Republik Islam tidak akan mundur menghadapi para perusak yang berusaha menyenangkan Trump,” kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam pidato yang disiarkan Jumat (10/1/2025).
Jaksa Teheran menyatakan para pengunjuk rasa dapat menghadapi hukuman mati.
“Jika peluru mengenai Anda, jangan mengeluh,” ujar seorang pejabat Garda Revolusi Islam di televisi pemerintah, sambil memperingatkan para orang tua agar menjauhkan anak-anak mereka dari protes.
Selama 11 hari pertama demonstrasi, respons rezim diliputi ketidakpastian.
“Saat ini ada banyak perbedaan pendapat di antara pasukan keamanan,” kata seorang petugas polisi anti huru hara berpakaian hitam kepada TIME, Rabu (8/1/2025).
“Ada 100 persen kebingungan di dalam polisi anti huru hara,” tambahnya sambil meminta identitasnya dirahasiakan.
Petugas tersebut mengaku keputusan penting diambil dalam pertemuan tertutup tanpa diketahui aparat lapangan.
“Saya berpangkat senior di sini dan saya tidak tahu apa yang terjadi, mereka melakukan segalanya secara rahasia dan kami takut akan apa yang akan terjadi. Ada kekacauan di mana-mana, di kota, di rumah-rumah, di jalanan, bahkan di dalam kepolisian, dan banyak yang percaya rezim sedang runtuh” katanya.
Namun, beredarnya unggahan media sosial berdarah-darah serta pernyataan keras rezim pada Jumat (10/1/2025) mengindikasikan perintah penindakan telah dikeluarkan secara tegas.
“Saya pikir dalam kondisi saat ini, rezim tidak akan ragu menggunakan kekerasan karena protes telah menjalar ke kelas menengah dan hal itu dianggap sebagai ancaman eksistensial,” kata analis Iran Hossein Hafezian yang berbasis di New Jersey.
“Mulai sekarang korban diperkirakan akan meningkat pesat, meski situasi bisa berubah jika Trump menyerang beberapa barak polisi anti huru hara,” ujarnya.
Ancaman Trump serta penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat disebut sebagai salah satu faktor di balik respons tidak konsisten otoritas Iran pada hari-hari awal protes.
Di Malekshahi, Provinsi Ilam, sedikitnya lima demonstran tewas ditembak di luar gedung yang dioperasikan pasukan paramiliter Basij, menurut Jaringan Hak Asasi Manusia Kurdistan yang berbasis di Paris.
Sementara itu, di Pasar Besar Teheran yang menjadi basis tradisional pendukung rezim, aparat lebih banyak membubarkan massa menggunakan gas air mata dan penangkapan dibanding tembakan langsung.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]