Militer Israel bahkan mengklaim telah menyerang lebih dari 100 target di Lebanon hanya dalam waktu 10 menit pada Rabu, yang disebut sebagai serangan terbesar sejak 1 Maret.
Sebelumnya, pada Rabu (8/4/2026), Presiden Donald Trump mengumumkan gencatan senjata melalui media sosial Truth miliknya, kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu yang ia tetapkan sendiri untuk melancarkan serangan ke Iran.
Baca Juga:
Dampak Penutupan Selat Hormuz, Tiga Negara Berebut Urea Indonesia
Rencana serangan tersebut menyasar pembangkit listrik dan jembatan di Iran, yang sebelumnya telah diperingatkan oleh para ahli hukum internasional, pejabat lintas negara, hingga Paus sebagai tindakan yang berpotensi masuk kategori kejahatan perang.
“Sebuah peradaban akan musnah malam ini, dan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Saya tidak ingin itu terjadi, tapi kemungkinan besar akan terjadi,” tulis Trump dalam pernyataannya.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum kesepakatan gencatan senjata berhasil dicapai melalui mediasi Pakistan.
Baca Juga:
Perang di Timur Tengah, Mentan Sebut Bawa Keuntungan Tak Terduga ke Petani
Bahkan, pesawat pengebom B-52 dilaporkan sudah dalam perjalanan menuju Iran sebelum akhirnya kesepakatan diumumkan.
Pada Selasa malam (7/4/2026), Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut dimediasi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang meminta masa damai selama dua minggu untuk membuka ruang diplomasi.
“Bersedia menghentikan serangan terhadap Iran selama dua minggu,” ujar Trump.