WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan kembali meledak hanya beberapa jam setelah kesepakatan damai diumumkan, ketika Israel melancarkan serangan mematikan ke jantung Beirut yang menewaskan ratusan warga sipil di tengah klaim gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengklaim kemenangan pada Rabu (8/4/2026) setelah bersama Israel menyepakati gencatan senjata selama dua minggu, namun situasi langsung memanas kembali.
Baca Juga:
Dampak Penutupan Selat Hormuz, Tiga Negara Berebut Urea Indonesia
Di tengah kesepakatan tersebut, militer Israel justru melancarkan serangan ke sejumlah area komersial dan permukiman padat penduduk di pusat Beirut pada Rabu sore waktu setempat tanpa peringatan.
Akibat serangan ini, sedikitnya 112 orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan lainnya mengalami luka-luka, memperparah krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Iran menilai langkah Israel tersebut sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump.
Baca Juga:
Perang di Timur Tengah, Mentan Sebut Bawa Keuntungan Tak Terduga ke Petani
“Dianggap sama dengan menyerang Iran,” tegas Komandan Kedirgantaraan Garda Revolusi Iran, Jenderal Seyed Majid Mousavi, saat memperingatkan bahwa pihaknya tengah menyiapkan balasan besar.
Ia juga menyampaikan bahwa respons Iran hanya tinggal menunggu waktu, meski belum merinci bentuk serangan yang akan dilakukan.
Sementara itu, dari pihak Israel, Kepala Staf Militer Letjen Eyal Zamir menegaskan bahwa negaranya akan terus memanfaatkan setiap peluang untuk menghantam kelompok Hizbullah di Lebanon.