Koridor Wakhan di Afghanistan, 'tempat paling terpencil dan terindah di seluruh Asia yang tak tersentuh waktu'
Pengusiran warga Granadilla berawal pada 1950-an, pada masa kediktatoran Francisco Franco.
Baca Juga:
Akui Palestina Merdeka, Bendera Spanyol, Norwegia, dan Irlandia Berkibar di Tepi Barat
Kala itu, Spanyol memulai proyek pembangunan bendungan secara besar-besaran guna mendongkrak perekonomian di tengah periode isolasi.
Proyek terbesar adalah waduk Gabriel y Galán di Sungai Alagón. Kemudian pada 1955, para petinggi Spanyol mengumumkan Granadilla bakal terkena penenggelaman sehingga semua penduduknya harus dievakuasi.
Selama 10 tahun, dari 1959 hingga 1969, seluruh 1.000 penduduk diusir paksa. Banyak di antara mereka pindah ke lahan dekat kota kecil tersebut.
Baca Juga:
Menhan Spanyol: Perang di Gaza Palestina Adalah Genosida, Harus Segera Dihentikan
Ketika air mulai naik pada 1963, jalan menuju kota tidak ikut tenggelam.
Granadilla pun tidak terimbas sehingga kota tersebut menjadi semenanjung.
Meski demikian, warga kota tidak diperbolehkan kembali ke sana.