WAHANANEWS.CO, Jakarta - Irak mengumumkan pemangkasan produksi minyak mentah setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran di tengah meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Kebijakan tersebut diumumkan oleh Kementerian Perminyakan Irak melalui pernyataan resmi pada Selasa malam (3/3/2026).
Baca Juga:
Misi Sulit Timnas Indonesia: Taklukkan Irak dan Jaga Asa Lolos ke Piala Dunia
Pemerintah Irak menyatakan bahwa keputusan mengurangi produksi minyak dilakukan karena terjadinya penurunan ekspor akibat gangguan pada jalur pelayaran utama di kawasan Teluk Persia.
Melansir laporan dari Anadolu Agency, sebagian pengiriman minyak bahkan terpaksa dihentikan sementara waktu karena kapal tanker kesulitan melewati jalur pelayaran yang terdampak situasi keamanan tersebut.
Penutupan Selat Hormuz dinilai memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekspor energi dari kawasan Teluk.
Baca Juga:
Pasca Jatuhnya Rezim Assad, Irak Tutup Perbatasan Dengan Suriah
Meski demikian, pemerintah Irak menegaskan bahwa operasional kilang minyak di berbagai wilayah negara tersebut tetap berjalan normal.
Kilang-kilang yang berada di wilayah selatan, tengah, hingga utara Irak disebut masih beroperasi dengan kapasitas penuh.
Pemerintah juga memastikan bahwa produksi bahan bakar serta berbagai produk turunan minyak untuk kebutuhan domestik tidak akan terganggu oleh kebijakan pengurangan produksi tersebut.
Langkah ini dilakukan agar kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian situasi regional.
Sementara itu, kelebihan produksi minyak akan disimpan sebagai cadangan strategis guna menjaga stabilitas pasokan energi nasional.
Sebelumnya, penutupan Selat Hormuz diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran.
Pihak Iran memperingatkan bahwa kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut berisiko menjadi sasaran serangan.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia.
Jalur ini menjadi penghubung utama ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.
Sebagian besar pengiriman energi dari wilayah tersebut biasanya melewati Laut Arab dan kemudian menuju Samudra Hindia sebelum didistribusikan ke berbagai negara tujuan.
Rute tersebut menjadi tumpuan utama bagi sejumlah produsen energi terbesar di kawasan.
Negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Irak, dan Qatar sangat bergantung pada jalur tersebut untuk menyalurkan ekspor minyak dan gas ke pasar global.
Selain itu, negara-negara di kawasan Eropa serta berbagai negara di Asia juga sangat bergantung pada pasokan energi yang melewati Selat Hormuz.
Penutupan selat tersebut terjadi setelah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Serangan besar-besaran yang dilaporkan terjadi sebelumnya disebut menewaskan hampir 800 orang.
Di antara korban tersebut termasuk Ali Khamenei yang disebut tewas dalam serangan tersebut.
Situasi ini semakin memperburuk ketidakpastian di pasar energi global serta meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
[Redaktur: Ajat Sudrajat]