Jika seluruh proyek tersebut terealisasi, kontribusi energi surya diperkirakan mampu menyuplai hingga 15–20 persen kebutuhan listrik nasional.
“Semua perusahaan yang telah kami kontrak, atau masih dalam negosiasi, akan menjual listrik kepada kami dengan harga yang sangat menarik, dan kami akan menjualnya kepada konsumen,” kata Wakil Menteri Ketenagalistrikan Adel Karim.
Baca Juga:
PLN Genjot 21 Proyek PLTS 513 MWp, ALPERKLINAS: Langkah Strategis Kurangi BBM
Meski memiliki cadangan minyak dan gas melimpah, Irak masih menghadapi defisit listrik besar dengan produksi sekitar 27.000–28.000 megawatt, sementara kebutuhan mencapai 50.000–55.000 megawatt.
Kondisi ini membuat pemadaman listrik menjadi hal yang umum, terutama saat musim panas dengan suhu ekstrem yang bisa melampaui 50 derajat Celsius.
Ketergantungan terhadap impor gas dan listrik dari Iran juga menjadi tantangan tersendiri karena berpotensi terdampak kebijakan sanksi internasional.
Baca Juga:
IEEFA: Program PLTS Prabowo Bisa Menghemat Rp62 Triliun per Tahun
“Langkah Irak ini menunjukkan arah yang tepat, karena negara dengan radiasi matahari tinggi seharusnya menjadikan energi surya sebagai tulang punggung sistem energinya di masa depan,” ujar pengamat energi dan lingkungan KRT Tohom Purba.
Ia menilai transformasi menuju energi terbarukan tidak hanya berdampak pada ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang investasi dan memperbaiki kualitas lingkungan secara signifikan.
“Jika dikelola konsisten, proyek-proyek seperti ini bisa mengurangi ketergantungan impor energi sekaligus menekan emisi karbon dalam jangka panjang,” katanya.