WAHANANEWS.CO, Jakarta - Iran secara terbuka menyatakan pintu diplomasi telah tertutup dan Teheran siap menghadapi perang panjang melawan Amerika Serikat sambil meningkatkan tekanan terhadap negara-negara Teluk agar memaksa Washington menghentikan konflik.
Pernyataan keras tersebut disampaikan penasihat kebijakan luar negeri di kantor pemimpin tertinggi Iran Kamal Kharazi dalam wawancara dengan CNN pada Senin malam waktu setempat (9/3/2025).
Baca Juga:
IAEA Uangkap Iran Punya 200 Kg Uranium Disimpan Isfahan, Bisa Jadi Bom Nuklir
“Iran tidak melihat lagi ruang untuk diplomasi,” kata Kharazi menegaskan bahwa Teheran kini lebih mempersiapkan diri menghadapi konflik berkepanjangan.
Ia menjelaskan bahwa pengalaman dua putaran perundingan sebelumnya membuat Iran kehilangan kepercayaan terhadap Washington.
"Saya tidak melihat ruang untuk diplomasi lagi, karena Donald Trump telah menipu pihak lain dan tidak menepati janjinya, dan kami mengalami hal itu dalam dua putaran perundingan; saat kami sedang terlibat bernegosiasi, mereka justru menyerang kami," kata Kharazi.
Baca Juga:
Langit Israel Memerah, Iran Hantam Fasilitas Energi Haifa
Menurut Kharazi, satu-satunya kemungkinan berakhirnya perang adalah jika tekanan ekonomi akibat konflik memaksa negara-negara lain turun tangan untuk menghentikan agresi.
Dia menilai negara-negara Arab Teluk serta pihak lain seharusnya mendorong Amerika Serikat menghentikan konfrontasi militer terhadap Iran.
"Perang ini telah menimbulkan banyak tekanan, tekanan ekonomi, terhadap pihak lain, dalam hal inflasi maupun kekurangan energi; dan jika ini terus berlanjut, maka tekanan itu akan semakin meningkat sehingga pihak lain tidak punya pilihan selain turun tangan," ucapnya.
Ketika ditanya mengenai soliditas militer dan kepemimpinan Iran di tengah konflik, Kharazi menegaskan bahwa struktur komando tetap bersatu.
"Tanggung jawab pemimpin Republik Islam Iran adalah memimpin kemampuan pertahanan Iran dan sebagaimana yang dilakukan Ayatollah Khamenei, kini pemimpin baru juga akan melakukannya," tegasnya.
Wawancara tersebut muncul ketika eskalasi regional meningkat sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Jumat (28/2/2025).
Serangan militer itu dilaporkan menewaskan lebih dari 1.200 orang termasuk pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Iran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi fasilitas militer milik Amerika Serikat.
Dalam perkembangan lain, Iran juga secara efektif menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis pengiriman energi global.
Selat tersebut menangani sekitar 20 juta barel pengiriman minyak setiap hari serta sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair dunia yang sebagian besar ditujukan ke pasar Asia.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]