WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Iran mengklaim berhasil mengusir kapal perang Amerika Serikat dari jalur strategis dunia di Selat Hormuz, sebuah wilayah yang selama ini menjadi urat nadi distribusi energi global.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) merilis rekaman video yang disebut-sebut memperlihatkan kapal perusak milik Amerika Serikat mundur dari bagian timur Selat Hormuz usai mendapat peringatan dari angkatan laut Iran.
Baca Juga:
AS Cairkan Aset Iran Rp102 Triliun, Sinyal Keras Menuju Kesepakatan Baru
Ditegaskan IRGC dalam pernyataan resminya, setiap aktivitas militer asing di kawasan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa respons keras.
“Setiap pergerakan kapal militer di Selat Hormuz akan ditangani secara keras,” demikian pernyataan resmi IRGC, Minggu (12/4/2026).
Dalam keterangannya, IRGC juga menegaskan bahwa jalur pelayaran tersebut hanya diperuntukkan bagi kapal sipil dengan sejumlah ketentuan tertentu.
Baca Juga:
Perang Iran Tanpa Pemenang, Posisi Netanyahu Dinilai Lemah
Sekaligus mempertegas posisi Iran, klaim ini menunjukkan sikap tegas Teheran yang menyatakan memiliki kendali atas Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik kawasan.
Di sisi lain, Iran membantah klaim militer Amerika Serikat yang sebelumnya menyebutkan adanya operasi kapal perang mereka di wilayah tersebut.
Disebutkan oleh Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM), dua kapal perusak Angkatan Laut AS sempat beroperasi di Selat Hormuz untuk menjalankan misi pembersihan ranjau laut.
“Klaim komandan CENTCOM mengenai pendekatan dan masuknya kapal Amerika ke Selat Hormuz dibantah keras,” ujar juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya.
Pernyataan saling bantah ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, terutama setelah konflik bersenjata yang turut memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah.
Sebagai jalur vital global, Selat Hormuz diketahui dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia sehingga setiap dinamika di wilayah ini berpotensi mengguncang perdagangan internasional dan harga energi.
Dengan situasi yang terus memanas, klaim dan bantahan dari kedua pihak semakin memperbesar ketidakpastian geopolitik dan risiko terhadap pasar energi global.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]