WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik didih menyusul serangan pesawat tanpa awak (drone) misterius yang menyasar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Barakah di Uni Emirat Arab (UEA).
Serangan udara berbahaya ini langsung memicu kepanikan global hingga Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menggelar sidang darurat atas permintaan Bahrain guna merespons situasi yang kian kritis.
Baca Juga:
Netanyahu Kirim Iron Dome & Tentara, Arab Mulai Berteman dengan Israel
Mengutip laporan Arab News pada Rabu (20/05/2026), Duta Besar UEA untuk PBB Mohamed Abushahab mengutuk keras serangan teroris yang melanggar hukum dan tanpa provokasi tersebut di hadapan para anggota dewan.
Abushahab mengeluarkan peringatan tegas bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir sipil merupakan batas merah yang tidak boleh dilanggar karena dapat memicu eskalasi konflik yang jauh lebih merosot di kawasan yang sudah bergejolak.
"Serangan terhadap Barakah merupakan eskalasi berbahaya dalam lingkungan regional yang sudah tidak stabil," ujar Mohamed Abushahab.
Baca Juga:
Drone Serang Kilang Minyak Fujairah, UEA Tutup Bandara
"Ancaman dan serangan seperti ini adalah garis merah bagi UEA, dan kami mempertahankan hak penuh dan inheren kami untuk melindungi wilayah dan penduduk kami sesuai dengan hukum internasional," tegas Abushahab.
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan bahwa serangan drone yang merusak generator listrik di luar perimeter pembangkit tersebut diketahui berasal dari wilayah Irak, sehingga mereka mendesak pemerintah Irak untuk segera menghentikan semua tindakan permusuhan secara tanpa syarat.
Meskipun menyebabkan kebakaran yang berhasil dilokalisasi, Abu Dhabi memastikan bahwa fasilitas Barakah saat ini tetap beroperasi secara aman dan stabil untuk memasok 25 persen kebutuhan listrik negara tersebut.