Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, melalui akun Telegram resminya, mengonfirmasi bahwa pembicaraan dengan Menlu AS membahas situasi terkini terkait gencatan senjata serta pelaksanaan perjanjian perdamaian.
Ia juga menegaskan komitmen kuat Kamboja terhadap kesepakatan Bangkok–Phnom Penh sebagai landasan penyelesaian konflik.
Baca Juga:
AS Keluarkan Perintah Eksekutif, Negara Mitra Dagang Iran Terancam Tarif Tinggi
Hun Manet berharap upaya bilateral yang ditempuh kedua negara mampu menyelesaikan sengketa perbatasan secara damai dan berkelanjutan.
Percakapan tersebut berlangsung tidak lama setelah Thailand dan Kamboja menggelar pembicaraan militer pertama mereka di Provinsi Chanthaburi, Thailand, sebagai langkah awal meredakan ketegangan.
Konflik terbaru dilaporkan mulai meningkat sejak 8 Desember, sehari setelah insiden perbatasan yang melukai dua tentara Thailand.
Baca Juga:
AS dan Iran Kembali Berunding di Oman Usai Bom Nuklir dan Perang
Hingga saat ini, jumlah korban jiwa di kedua negara dilaporkan mencapai 96 orang.
Pemerintah Thailand menyatakan sebanyak 24 warganya meninggal dunia akibat bentrokan tersebut, sementara pihak Kamboja melaporkan 31 warga sipil tewas.
Selain korban jiwa, konflik ini juga memicu krisis kemanusiaan, dengan hampir satu juta warga di kedua sisi perbatasan terpaksa mengungsi demi menghindari dampak kekerasan yang kembali memanas.