WAHANANEWS.CO - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa cadangan minyak dapat habis dalam waktu sekitar satu bulan apabila jalur pelayaran global di Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung.
Dalam pernyataannya, Trump tidak menjelaskan secara rinci apakah yang dimaksud adalah cadangan minyak Amerika Serikat atau cadangan minyak global, namun ia menekankan potensi krisis energi yang dapat terjadi jika situasi tidak segera membaik.
Baca Juga:
Serangan Ubur-ubur Impes di Pantai Sepanjang, Wisatawan Jadi Korban
"Cadangan (minyak) kami akan habis dalam waktu empat pekan," kata Trump dikutip The Hill, Rabu (17/6/2026).
Ia kemudian menambahkan bahwa kondisi global juga dapat terdampak secara luas akibat gangguan distribusi energi dunia.
"Anda tahu, ada cadangan di seluruh dunia, dan kita akan benar-benar kehabisan, dan akan ada saatnya kita tidak bisa mendapatkannya lagi," ujarnya.
Baca Juga:
Pasar HP Global Lesu, Apple dan Huawei Jadi Pengecualian
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di sela pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 yang berlangsung di Prancis pada 15–17 Juni.
Menurutnya, jika pasokan minyak terus terganggu, situasi dunia berpotensi mengalami kekacauan akibat terbatasnya akses terhadap energi.
"Jika kita terus membom, kapal-kapal itu tidak akan berlayar," imbuh Trump.
Pernyataan itu muncul setelah dirinya bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (MoU) secara terpisah tanpa pertemuan langsung, yang mencakup penghentian konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup akibat eskalasi konflik.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, sehingga penutupannya berdampak besar terhadap stabilitas pasokan energi global.
Sebelumnya, Badan Energi Internasional (IEA) juga telah memperingatkan bahwa cadangan minyak global berada dalam tekanan akibat konflik yang berlangsung dan gangguan distribusi dari kawasan tersebut.
AS bersama negara-negara anggota IEA sempat melepas cadangan minyak strategis hingga ratusan juta barel untuk menstabilkan pasar, namun kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan masih terus berlanjut.
[Redaksi: Rinrin Khaltarina]