"Skenario ini mengasumsikan bahwa pada akhir bulan ini, kapasitas proyeksi kekuatan dan basis industri pertahanan Iran telah terdegradasi secara signifikan tetapi struktur politiknya tetap utuh. Kampanye militer intensitas tinggi akan berhenti setelah memenuhi tujuan yang ditentukan, tetapi tanpa janji perubahan rezim di Teheran," kata McGurk menjelaskan kemungkinan yang paling mungkin terjadi.
2. Pengumuman Kemenangan AS yang Prematur
Baca Juga:
Sinergi TNI–Polri dan Pemda, Apel Operasi Ketupat 2026 Digelar di Polda Jambi
Skenario kedua dengan peluang 30% adalah "Iran yang semakin berani". Hal ini bisa terjadi jika guncangan ekonomi terjadi, terutama di AS.
Ini akan memaksa Trump untuk menyatakan kemenangan prematur sebelum kampanye militer selesai. Akibatnya, Iran akan tetap memiliki struktur kekuasaan yang terkonsolidasi dan kapasitas militer serta nuklir yang cukup utuh untuk dibangun kembali.
"Keputusan untuk berbalik arah sebelum militer AS menyelesaikan tugas yang diberikan akan berisiko menghasilkan keseimbangan regional yang lebih tidak stabil. Apa pun manfaat dari meluncurkan perang ini, penghentian dini kampanye akan berisiko membuat rezim Iran semakin berani dan menempatkan kawasan serta dunia dalam posisi yang bahkan lebih berbahaya," tutur McGurk mengenai risiko penghentian perang yang terlalu cepat.
Baca Juga:
Sitanggang DPO Pimpin Kembali Aktivitas Minyak Ilegal, Kapolres Batanghari Bungkam saat Dikonfirmasi
3. Iran yang Baru
Skenario ketiga dengan peluang 10% adalah lahirnya "Iran Baru" dan Timur Tengah yang baru. Dalam kemungkinan kecil ini, tekanan militer melemahkan rezim hingga memperkuat kepercayaan diri rakyat Iran untuk turun ke jalan dan menggulingkan Republik Islam.
Namun, sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal jarang menghasilkan keruntuhan rezim secara cepat tanpa oposisi internal bersenjata yang terorganisir. Ini pun terlihat di Iran.