Lalu bagaimana dengan penunjukan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei sendiri saat ini? Ia diyakini kemungkinan besar hanya akan menjadi tokoh formalitas bagi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Belum diketahui apakah ia akan mampu mengonsolidasikan kekuasaan secara efektif atau justru memunculkan pesaing baru. Mengingat posisinya diperoleh melalui warisan dari mendiang ayahnya.
Baca Juga:
Sinergi TNI–Polri dan Pemda, Apel Operasi Ketupat 2026 Digelar di Polda Jambi
Dalam jangka panjang, McGurk percaya ketidakpuasan ke pemerintah Republik Islam mungkin saja terjadi yang pada akhirnya memberikan "kendali kepada rakyat Iran". Iran yang "melemah" dalam skenario kasus dasar dapat mempercepat hasil tersebut, meskipun hal itu tidak bisa diharapkan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah Iran yang baru juga mungkin akan tetap melanjutkan serangan drone serta rudal di kawasan tersebut selama mereka masih memiliki kapasitas. Bahkan setelah Amerika mengakhiri serangannya.
"Dalam skenario apa pun, keterlibatan AS dengan Iran-termasuk pencegahan, penahanan, dan kemungkinan tindakan militer lebih lanjut-tampaknya tidak akan berakhir ketika krisis ini berakhir," ujar McGurk.
Baca Juga:
Sitanggang DPO Pimpin Kembali Aktivitas Minyak Ilegal, Kapolres Batanghari Bungkam saat Dikonfirmasi
"Hasil yang paling mungkin bukanlah resolusi yang bersih, melainkan Iran yang lebih lemah dan lebih terkekang, dengan keseimbangan kekuatan regional yang baru, serta ketidakpastian ke mana semua ini akan mengarah," tambahnya.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.