WAHANANEWS.CO, Jakarta - Sebanyak 90 orang tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara di China utara. Insiden ini menjadi bencana pertambangan paling mematikan di negara tersebut dalam lebih dari satu dekade.
Media pemerintah China, CCTV, melaporkan operasi penyelamatan masih berlangsung hingga Sabtu waktu setempat. Selain korban tewas, sembilan pekerja lainnya dilaporkan masih hilang.
Baca Juga:
Harga Patokan Ekspor Konsentrat Tembaga Naik pada Paruh Kedua Maret 2026
"Upaya penyelamatan masih berlangsung. Jumlah korban masih dihitung," tulis CCTV dalam laporannya, dikutip Sabtu (23/5/2026) melansir CNBC Indonesia.
Ledakan terjadi pada Jumat pukul 19.30 waktu setempat saat terdapat 247 pekerja berada di bawah tanah. Hingga Sabtu pagi pukul 06.00 waktu setempat, setidaknya 201 pekerja berhasil dievakuasi.
Insiden maut itu terjadi di tambang batu bara Liushenyu yang berada di Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, wilayah penghasil batu bara terbesar di China. Sebelumnya, kantor berita pemerintah Xinhua melaporkan kadar karbon monoksida di dalam tambang "melebihi batas" sebelum ledakan terjadi.
Baca Juga:
HPE Konsentrat Tembaga dan Emas Naik pada Periode Kedua Februari 2026
Hingga kini, penyebab pasti ledakan tambang di Shanxi masih dalam proses penyelidikan.
Sementara itu Presiden China Xi Jinping langsung memerintahkan operasi penyelamatan besar-besaran bagi para pekerja yang masih terjebak di bawah tanah. Menurut laporan Xinhua, Xi juga meminta dilakukan investigasi menyeluruh terkait penyebab kecelakaan tersebut.
"Xi mendesak penyelidikan menyeluruh atas penyebabnya, dengan pertanggungjawaban ditegakkan sesuai hukum," demikian laporan Xinhua.
Biro Manajemen Darurat Kabupaten Qinyuan menyebut sebanyak 400 hingga 500 personel dikerahkan untuk melakukan operasi penyelamatan bawah tanah. Para pejabat tingkat provinsi juga telah tiba di lokasi kejadian.
Menurut laporan CNN International, pihak perusahaan pengelola tambang, Shanxi Tongzhou Group Liushenyu Coal Industry, mengaku belum mengetahui detail insiden tersebut.
"Saya tidak mengetahui situasinya," kata petugas yang menerima telepon sebelum mengakhiri sambungan.
China masih sangat bergantung pada batu bara sebagai sumber energi utama meskipun pemerintah terus mendorong pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Provinsi Shanxi sendiri menyumbang lebih dari seperempat total produksi batu bara nasional.
Industri tambang batu bara di China juga dikenal memiliki catatan keselamatan kerja yang buruk. Meski standar keamanan disebut meningkat sejak awal 2000-an, kecelakaan fatal masih kerap terjadi.
Pada 2023 lalu, sebanyak 53 pekerja tewas akibat runtuhnya tambang di Mongolia Dalam, menurut laporan media pemerintah China.
[Redaktur: Alpredo Gultom]