WAHANANEWS.CO - Sehari setelah duduk satu meja dengan Amerika Serikat, Iran langsung melontarkan kritik tajam yang menohok jantung rival abadinya di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik Israel terkait apa yang disebutnya sebagai “doktrin dominasi” setelah Teheran menjalani perundingan nuklir dengan Amerika Serikat di Oman.
Baca Juga:
F-35 AS Hancurkan Drone Iran, Ketegangan di Laut Arab Memuncak
Araghchi menilai doktrin tersebut memberi ruang bagi Israel untuk terus memperluas persenjataan militernya, sembari menekan negara-negara lain agar melucuti senjata dan membatasi kemampuan pertahanan.
Perundingan nuklir antara Iran dan Amerika Serikat yang berlangsung di Oman pada Jumat (6/2/2025) menjadi pembicaraan nuklir pertama sejak dialog sebelumnya runtuh akibat serangan Israel ke Iran pada Juni tahun lalu yang memicu perang selama 12 hari.
Sehari setelah menghadiri perundingan tersebut, Araghchi berbicara dalam konferensi Al Jazeera Forum di Qatar pada Sabtu (7/2/2025) dan melontarkan kritik keras terhadap Israel sebagai rival utama Iran di kawasan.
Baca Juga:
Pantauan KBRI Teheran: Kondisi Iran Relatif Aman, Kemlu Imbau WNI Tetap Waspada
“Proyek ekspansionis Israel mengharuskan negara-negara tetangga dilemahkan secara militer, secara teknologi, secara ekonomi, dan secara sosial,” kata Araghchi dalam forum tersebut.
Menurut Araghchi, di bawah proyek tersebut Israel bebas memperluas kekuatan militernya tanpa batas, sementara negara-negara lain justru dipaksa melucuti senjata dan menurunkan kapasitas pertahanan.
“Di bawah proyek ini, Israel bebas untuk memperluas persenjataan militernya tanpa batas, namun negara-negara lainnya dituntut untuk melucuti senjata, ditekan untuk mengurangi kapasitas pertahanan, dan dihukum karena kemajuan ilmiah,” ujarnya.
“Ini adalah doktrin dominasi,” tegas Araghchi.
Selama perang tahun lalu, Israel menargetkan pejabat militer senior Iran, ilmuwan nuklir terkemuka, fasilitas nuklir, hingga kawasan permukiman, sementara Amerika Serikat turut membombardir sejumlah fasilitas nuklir Iran.
Teheran membalas serangan tersebut dengan meluncurkan drone dan rudal ke target-target Israel serta menyerang pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Qatar.
Dalam perundingan tidak langsung dengan AS yang dimediasi Oman pada Jumat (6/2/2025), Araghchi yang memimpin delegasi Iran menyebut suasana pembicaraan berlangsung sangat positif.
Ia menjelaskan bahwa perundingan hanya difokuskan pada isu nuklir tanpa membahas agenda lain di luar itu.
Washington disebut berupaya memasukkan isu program rudal balistik Iran dan dukungan Teheran terhadap kelompok militan di kawasan, yang menurut media didorong oleh Israel, namun Iran secara konsisten menolak perluasan agenda negosiasi.
Araghchi mengatakan kedua pihak sepakat melanjutkan perundingan, namun ia memperingatkan Amerika Serikat agar menahan diri dari ancaman dan tekanan demi menjaga keberlangsungan dialog.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]