MEDIA dan pengamat di Timur Tengah saat ini sering menyebut adanya tren menuju Timur Tengah baru.
Istilah ”Timur Tengah baru” pertama kali diembuskan oleh mantan Presiden Israel, Shimon Peres, pasca-tercapainya Kesepakatan Oslo antara Palestina dan Israel pada tahun 1993.
Baca Juga:
Lebanon di Ambang Perang, Israel Lancarkan Serangan Udara Terbesar Sejak 2024
Peres saat itu menulis buku dengan judul The New Middle East (Timur Tengah Baru).
Ia berharap dan sekaligus memprediksi akan terciptanya paradigma baru di Timur Tengah, yakni kerja sama Arab-Israel, menggantikan paradigma konflik Arab-Israel, pasca-Kesepakatan Oslo.
Peres menyebut paradigma baru itu dengan istilah ”Timur Tengah Baru”.
Baca Juga:
3 Negara Ini Masuk Daftar Wisata Luar Negeri dengan Risiko Tinggi di 2025
Peres memimpikan Timur Tengah pasca-Kesepakatan Oslo seperti Eropa pasca-Perang Dunia II yang melahirkan paradigma kerja sama Eropa dalam bentuk organisasi Uni Eropa.
Tentu impian Peres tersebut belum menjadi kenyataan.
Sebaliknya Timur Tengah terus dilanda konflik, tidak hanya antara Arab dan Israel, tetapi juga antara sesama negara Arab.