Karena itu, kesediaan Iran dan Arab Saudi membuka dialog di Baghdad merupakan kemajuan besar, meskipun sampai saat ini belum mencapai kesepakatan membuka hubungan diplomatik kedua negara.
Hubungan diplomatik Iran-Arab Saudi putus sejak tahun 2016, menyusul insiden serangan massa Iran ke kantor Kedutaan Arab Saudi di Teheran dan konsulat Arab Saudi di kota Mashhad.
Baca Juga:
Seskab Teddy Buka Suara Bantah Indonesia akan Chaos: Semua Terkendali!
Aksi massa Iran saat itu sebagai protes atas tewasnya tokoh Syiah Arab Saudi, Sheikh Nimr al-Nimr.
Kini, Iran dan Arab Saudi mencoba melakukan normalisasi hubungan melalui berbagai dialog di Baghdad sejak bulan April lalu.
Jika dialog tersebut berhasil membuahkan kesepakatan normalisasi hubungan, hal ini akan mengubah wajah Timur Tengah secara signifikan.
Baca Juga:
Gencatan Senjata AS-Iran Berjalan, Trump Minta Israel Tahan Diri
Ini yang banyak ditunggu publik di kawasan Timur Tengah saat ini.
Turut berandil pula atas lahirnya wajah Timur Tengah baru adalah tercapainya Kesepakatan Abraham (Abraham Accord) antara Israel dan sejumlah negara Arab pada tahun 2020.
Yakni, kesepakatan pembukaan hubungan resmi UEA-Israel pada Agustus tahun itu, berlanjut dengan Bahrain-Israel pada September, lalu Sudan-Israel pada Oktober, dan Maroko-Israel pada Desember.