Ia menyebut pertempuran ini sebagai perang ketiga setelah konflik 12 hari dengan Israel pada Juni 2025 serta gelombang protes nasional yang dituding dipicu campur tangan asing.
“Dengan menunjukkan persatuan dan tekad, rakyat Iran memberikan pukulan telak kepada musuh sehingga mereka mulai mengucapkan kata-kata yang kontradiktif dan omong kosong,” ujarnya.
Baca Juga:
Dunia Tegang! Iran Tembakkan Rudal 4.000 Km ke Pangkalan Inggris
Mojtaba juga menanggapi asumsi bahwa kematian Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran akan melemahkan negara tersebut.
Ia menilai anggapan tersebut sebagai ilusi yang berkembang di kalangan Amerika Serikat dan Israel.
“Mereka memiliki ‘ilusi’ bahwa jika Ali Khamenei dan para pemimpin militer lainnya terbunuh, mereka akan menciptakan ketakutan dan keputusasaan serta mewujudkan impian untuk mendominasi Iran dan kemudian memecah belahnya,” ucapnya.
Baca Juga:
Rudal Iran Hantam Qatar, Kini Trump Siap Hancurkan South Pars
Dalam konflik tersebut, Ali Khamenei bersama belasan pejabat keamanan dan petinggi Iran lainnya dilaporkan gugur.
Selain itu, Mojtaba membantah tuduhan keterlibatan Iran dalam serangan terhadap Oman dan Turkiye.
Ia justru menuding Israel melakukan operasi penyesatan atau false flag untuk memicu konflik yang lebih luas di kawasan.