“CBO menjelaskan kenaikan beban bunga ini terjadi karena total utang pemerintah kini lebih besar dibandingkan tahun lalu, sementara suku bunga jangka panjang juga masih berada di level lebih tinggi.”
Namun dalam laporan yang sama dijelaskan bahwa penurunan suku bunga jangka pendek sedikit menahan laju peningkatan pembayaran bunga secara keseluruhan.
Baca Juga:
Konflik Melebar, Washington Kirim Marinir dari Jepang ke Timur Tengah
Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana beban bunga kini menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam anggaran pemerintah Amerika Serikat.
Besarnya biaya bunga utang ini bahkan jauh melampaui beban bunga yang harus dibayar banyak negara berkembang.
Sebagai perbandingan, Indonesia dalam APBN 2026 diperkirakan mengalokasikan pembayaran bunga utang sekitar Rp599,44 triliun.
Baca Juga:
Krisis Iran Merambah ke Arah Tidak Menentu, Analis Beberkan 3 Skenario Akhir Perang di Arab
Perbedaan skala tersebut menggambarkan betapa besar tekanan fiskal yang dihadapi pemerintah Amerika Serikat seiring meningkatnya akumulasi utang nasional mereka, yang dari tahun ke tahun terus bertambah tanpa jeda.
Caption: Defisit fiskal Amerika Serikat hampir menyentuh US$1 triliun hanya dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026, memperkuat kesan bahwa ekonomi AS sangat bergantung pada utang untuk membiayai belanja negara.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.