WAHANANEWS.CO, Jakarta - Kondisi fiskal Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah pemerintah negara adidaya itu mencatat defisit hampir US$1 triliun hanya dalam lima bulan pertama tahun fiskal 2026, angka yang memperkuat kesan lama bahwa ekonomi terbesar dunia tersebut sangat bergantung pada utang untuk membiayai belanja negaranya.
Data terbaru menunjukkan hingga Februari 2026 pemerintah Amerika Serikat telah mencatat defisit sekitar US$1 triliun atau setara Rp16.865 triliun dengan asumsi kurs Rp16.865 per dolar AS.
Baca Juga:
Konflik Melebar, Washington Kirim Marinir dari Jepang ke Timur Tengah
Angka tersebut terungkap dalam laporan bulanan Congressional Budget Office (CBO) yang diperbarui hingga Februari 2026 dan memperlihatkan tekanan fiskal Amerika yang terus meningkat.
Berdasarkan laporan itu pula, pemerintah AS bahkan menambah pinjaman baru sekitar US$308 miliar hanya dalam satu bulan terakhir.
Kondisi ini menambah kekhawatiran para analis fiskal global karena laju pembengkakan utang terjadi bersamaan dengan belanja pemerintah yang terus meningkat, sehingga menimbulkan kesan bahwa Washington makin “ketagihan” menutup kebutuhan anggaran melalui penambahan utang.
Baca Juga:
Krisis Iran Merambah ke Arah Tidak Menentu, Analis Beberkan 3 Skenario Akhir Perang di Arab
Perlu diketahui, tahun fiskal Amerika Serikat tidak mengikuti kalender tahunan seperti kebanyakan negara.
Tahun fiskal 2026 di Amerika Serikat dimulai pada 1 Oktober 2025 dan akan berakhir pada 30 September 2026.
Data Kementerian Keuangan Amerika Serikat menunjukkan total utang pemerintah hingga Selasa (21/1/2026) telah mencapai sekitar US$38,5 triliun.