Rangkaian informasi yang mengemuka sejak Oktober menggambarkan skenario pergantian kepemimpinan yang tetap mempertahankan struktur kekuasaan lama.
Konsep itu disebut sebagai Madurismo tanpa Maduro, yakni kelanjutan rezim dengan wajah baru agar transisi berlangsung tanpa gejolak besar, kerusuhan, atau pembongkaran total sistem negara.
Baca Juga:
Atasi Kumuh dan Bau, MARTABAT Prabowo-Gibran: PSEL Regional di Kawasan Otorita IKN Jadi Simbol Peradaban Baru Indonesia
Pada Sabtu (3/1/2026), Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengelola Venezuela melalui pemerintahan transisi yang dipimpin Delcy Rodriguez, sembari menyiapkan masuknya perusahaan minyak Amerika.
“Dia pada dasarnya bersedia melakukan apa yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela kembali besar,” ujar Trump kepada wartawan.
Pernyataan tersebut merujuk pada Delcy Rodriguez yang sebelumnya pernah dikenai sanksi Amerika Serikat atas perannya dalam melemahkan demokrasi Venezuela.
Baca Juga:
Gangguan Kelistrikan di Sumatera, ALPERKLINAS Sebut PLN Responsif dan Terbuka ke Publik
Isu keterlibatan orang dalam semakin menguat setelah pernyataan mantan Wakil Presiden Kolombia, Francisco Santos Calderon.
Pada Minggu (4/1/2026), Santos menyebut penyingkiran Maduro sebagai operasi internal yang melibatkan Delcy Rodriguez.
Ia mengaku sangat yakin bahwa Maduro dibiarkan ditangkap oleh Amerika Serikat tanpa perlawanan berarti.