Ketiga, AS dinilai masuk ke meja perundingan dalam kondisi terdesak. Konflik yang tak kunjung selesai telah mengguncang pasar energi dan meningkatkan tekanan ekonomi global.
"Washington membutuhkan jeda lebih dari yang ingin mereka akui," ujar Murad, menyoroti urgensi strategis di pihak AS.
Baca Juga:
3 Bulan Berperang, Netanyahu di Ujung Tanduk Israel Takut AS dan Iran Berdamai
Keempat, tekanan politik domestik di AS turut mempersempit ruang gerak negosiasi. Aturan hukum terkait penggunaan kekuatan militer dan perpecahan di internal politik membuat posisi pemerintah tidak solid.
"Ketika satu pihak tertekan oleh waktu politik domestik, insentif untuk mengalah justru menurun," kata Murad.
Kelima, kegagalan membangun koalisi internasional memperlemah posisi AS. Dukungan dari sekutu, termasuk di Eropa, tidak sepenuhnya solid dalam konflik ini.
Baca Juga:
Luhut Warning APBN Terancam Jebol, Harga Minyak Bisa Tambah Defisit Rp 200 Triliun
"Kekuatan AS paling efektif saat tampil sebagai kekuatan kolektif, dan itu tidak terjadi dalam kasus Iran," ungkapnya.
Keenam, posisi tawar Iran justru menguat di tengah konflik, terutama setelah mampu memengaruhi jalur strategis Selat Hormuz. Selain itu, dukungan domestik terhadap pemerintah Iran meningkat.
"Iran tidak merasa sebagai pihak yang kalah, sehingga mereka menuntut harga tinggi untuk deeskalasi," tutur Murad.