WahanaNews.co | Hingga saat ini, sekitar 200 penerjemah staf pendukung kedutaan Inggris dan keluarganya masih tertinggal di Afghanistan. Mereka dalam kondisi tidak aman, karena terancam dieksekusi atau dipenjarakan oleh pemerintah Taliban. Kini mereka bersembunyi dan hidup dari mengemis.
Seperti dilaporkan Mirror.co.uk, Sabtu (23/10/2021), ratusan orang itu masih tertinggal di Afghanistan, usai penarikan total personel militer Inggris dari tanah Afghanistan. Mereka merasa ditinggalkan oleh pemerintah Inggris.
Baca Juga:
Ledakan di Masjid Afghanistan Telan 3 Korban Jiwa
“Kami meninggalkan Kandahar menuju Kabul ketika Taliban datang. Kedutaan Inggris mengatakan mereka akan mengeluarkan keluarga saya,” ujar, Aleem, ayah dari 4 orang anak.
“Tetapi dalam kekacauan itu, kami tidak bisa sampai ke bandara. Saya belum mendengar apa-apa sejak itu. Kami telah menjual semua perhiasan kami untuk membeli makanan, sekarang kami menjual pakaian kami. Saya bersembunyi di ruang bawah tanah bersama keluarga saya,” jelasnya.
Menurut Aleem, Taliban yang kini berkuasa penuh di Afghanistan, terus melakukan razia untuk menemukan orang-orang yang dianggap tidak sepaham dengan mereka. “Taliban ada di mana-mana, terus-menerus memeriksa siapa saja yang bekerja untuk pemerintah asing,” katanya.
Baca Juga:
Ledakan di Masjid Kabul Telan Korban Jiwa
Berbed nasib dengan Aleem, seratus lebih warga Afghanistan berhasil keluar dari tanah kelahiran mereka. “Dua penerbangan evakuasi tiba di Inggris membawa warga Afghanistan dan Inggris,” sebut pernyataan Kementerian Pertahanan (MoD) Inggris.
Lebih dari 100 warga Afghanistan telah tiba di Inggris setelah diterbangkan dari negara tetangga oleh RAF. Menteri Pertahanan Ben Wallace mengatakan: "Pada bulan Agustus kami bekerja tanpa lelah untuk mengangkut lebih dari 15.000 warga Afghanistan dan Inggris yang rentan dari Kabul ke Inggris.
“Seperti yang saya jelaskan pada saat itu, komitmen kami kepada rakyat Afghanistan tidak berakhir di sana. Kami bertekad untuk melakukan yang benar oleh mereka yang mendukung Angkatan Bersenjata kami selama bertahun-tahun dan orang lain yang berisiko,” lanjutnya.