Sejak serangan udara dimulai pada 28 Februari, kekuatan militer dan politik Iran memang mengalami pelemahan signifikan, namun hingga kini Teheran belum menunjukkan tanda-tanda menyerah.
Trump bahkan menyebut bahwa AS telah melumpuhkan angkatan laut, rudal balistik, hingga struktur kepemimpinan Iran, meski sejumlah laporan media AS menyebut pemerintahannya gagal mengantisipasi kemampuan balasan Iran yang meluas.
Baca Juga:
Jangan Salah Pilih! Ternyata Detergen Cair Lebih “Gila” dari Si Bubuk
Dampak konflik ini mulai terasa secara global dengan melonjaknya harga minyak dunia, seiring meluasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah dari Lebanon hingga Teluk, termasuk serangan terhadap kedutaan besar AS di Irak.
Trump juga menghadapi kritik karena dinilai sepihak mendukung Israel tanpa mandat Kongres maupun koordinasi dengan sekutu internasional.
Negara-negara Eropa secara halus menolak permintaan AS untuk membantu pengamanan Selat Hormuz yang kini diblokade Iran.
Baca Juga:
Italia Izinkan Cuti Berbayar untuk Merawat Hewan Peliharaan yang Sakit
Pada Senin (16/3/2026), Trump mengaku terkejut atas eskalasi serangan Iran yang menyasar negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar, meskipun sebelumnya telah ada peringatan dari Teheran.
"Mereka seharusnya tidak menyerang semua negara lain di Timur Tengah. Tidak ada yang menyangka itu. Kami terkejut," ujar Trump.
Kekecewaan sekutu semakin terlihat, termasuk dari Jerman yang secara tegas menolak keterlibatan dalam konflik tersebut.