Perang antara AS dan Iran bukan bagian dari tanggung jawab NATO, tegas Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Senin (16/3/2026).
Ia juga memastikan Jerman tidak akan terlibat dalam pengawalan di Selat Hormuz maupun operasi militer lainnya.
Baca Juga:
Drama Baru Kasus MBG, Elza Syarief Cabut dari Barisan Pembela Sony Sonjaya
Menurut Merz, pembicaraan diplomatik tidak bisa dimulai sebelum AS dan Israel menyatakan bahwa tujuan militer mereka telah tercapai.
Para analis menilai pendekatan militer semata tidak akan cukup untuk mengakhiri konflik yang semakin kompleks ini.
Richard Haass, Presiden Emeritus Council on Foreign Relations, menyebut bahwa meskipun konflik dimulai secara sepihak oleh AS, penyelesaiannya tetap membutuhkan persetujuan dari Israel dan Iran.
Baca Juga:
Dua Kebo Bule Kiai Slamet Batal Ikut Kirab 1 Suro, Ternyata Ini Penyebabnya
"Semakin lama perang ini berlangsung, keseimbangan antara biaya dan manfaatnya akan semakin bergeser ke arah biaya," kata Haass.
Pandangan serupa disampaikan Sina Toossi dari Center for International Policy yang menilai tidak ada opsi ideal dalam situasi saat ini.
"Jalan yang paling realistis adalah deeskalasi melalui negosiasi yang memungkinkan semua pihak menjaga harga diri," ujarnya.