"Ia menjanjikan kemenangan bersejarah dan keamanan untuk generasi mendatang, dan pada kenyataannya, kami mendapatkan salah satu kegagalan strategis paling parah yang pernah dikenal Israel," kata Golan di X.
"Ini adalah kegagalan total yang membahayakan keamanan Israel selama bertahun-tahun ke depan."
Baca Juga:
Blunder Mode Netanyahu: Warna Pakaian Mirip Bendera Palestina Tuai Cemooh
Secara faktual, Netanyahu dinilai mempertaruhkan segalanya pada perang tersebut. Namun ia gagal menjatuhkan pemerintahan Iran yang sah, gagal menguasai stok uranium yang diperkaya tinggi milik Teheran, dan tidak berhasil melemahkan negara itu secara signifikan. Kondisi tersebut dinilai semakin merusak posisi global Israel, yang sebelumnya sudah tertekan akibat operasi militernya di Gaza yang dituduh sebagai genosida.
Di sisi keamanan, meskipun Trump mengeklaim keberhasilan, kekuatan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran justru disebut menguat. Teheran setidaknya berhasil mencapai tujuan utamanya, yakni bertahan dari serangan selama sebulan oleh dua kekuatan militer besar dunia.
Serangan tersebut memang melukai rezim Iran, tetapi tidak menghancurkannya. Iran masih memiliki aset militer signifikan dan kemungkinan akan mempercepat persenjataan ulang sambil mencari peluang balasan.
Baca Juga:
Netanyahu Berpidato di PBB, Diplomat Berbondong-bondong Tinggalkan Ruangan Sebagai Aksi Protes
Netanyahu juga tetap bersikeras melanjutkan serangan di Lebanon selatan. Langkah ini dianggap berisiko karena rencana Israel membentuk zona keamanan baru dapat memicu konflik darat langsung dengan Hizbullah, yang secara historis dikenal mampu bertempur efektif di wilayahnya sendiri.
Dalam konteks itu, tulis The Guardian, serangan udara besar tanpa peringatan terhadap Lebanon dinilai sebagai tindakan hukuman setelah Israel tidak mencapai tujuannya di Iran.
Dampak diplomatik dan opini publik juga diperkirakan berat bagi Israel. Di AS, konsensus politik yang telah berlangsung sejak 1960-an terlihat mulai retak.