Peran Israel dalam mendorong Trump berperang dengan Iran dikritik oleh kelompok progresif maupun sayap kanan garis keras MAGA. Dukungan terhadap Israel juga berada pada titik terendah, bahkan di kalangan pemilih Yahudi.
Di dalam negeri Israel, dampaknya muncul pada tahun pemilu. Alih-alih memperkuat keamanan, Netanyahu dinilai keluar dari perang tanpa mencapai tujuan utama yang dijanjikannya.
Baca Juga:
Blunder Mode Netanyahu: Warna Pakaian Mirip Bendera Palestina Tuai Cemooh
Bagi publik Israel, ancaman yang selama ini disebutnya sebagai "eksistensial" tetap belum berubah.
Pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei memang telah tewas, tetapi putranya yang garis keras menggantikannya. Alih-alih menutup program nuklir Iran, rencana 10 poin Teheran yang disebut Trump sebagai dasar negosiasi justru tampak mencakup penerimaan hak Iran untuk memperkaya uranium, meskipun Trump membantah hal tersebut bagian dari kesepakatan.
Untuk sementara, kerangka pembicaraan AS-Iran dinilai lebih mendekati kesepakatan nuklir internasional era Barack Obama, yang sebelumnya diupayakan Netanyahu untuk digagalkan dan kemudian ditarik oleh Trump.
Baca Juga:
Netanyahu Berpidato di PBB, Diplomat Berbondong-bondong Tinggalkan Ruangan Sebagai Aksi Protes
Koresponden urusan militer harian Haaretz, Amos Harel, menilai kegagalan tersebut sudah tertanam dalam rencana perang Netanyahu.
"Banyak kelemahan yang dimiliki pemerintahan AS saat ini dan sistem Israel di bawah Netanyahu terlihat jelas: kecenderungan berjudi berdasarkan harapan tanpa dasar, rencana dangkal dan setengah matang, mengabaikan para ahli, atau penggunaan tekanan agresif untuk membuat mereka menyelaraskan pandangan dengan keinginan kepemimpinan politik," kata Harel.
Bagi Israel, konflik selama sebulan terakhir juga dianggap sebagai kesempatan langka untuk melancarkan operasi skala besar dengan dukungan penuh AS. Peluang konflik serupa terulang dalam waktu dekat dinilai kecil.