"Ya, 5 persen dalam tujuh tahun, tetapi kita belum berhasil mencapai apa yang disebut trickle down effect. Kekayaan tetap berada di atas kurang dari 1 persen kelompok masyarakat. Dan ini bukan rumus untuk mencapai kesuksesan, menurut pendapat saya," katanya.
Sebagai solusinya, Prabowo menolak ekstremisme dalam sistem ekonomi.
Baca Juga:
APBN Ambil Alih Utang Whoosh, Negara Siapkan Rp1,2 T Per Tahun
Ia mengusulkan pendekatan tengah yang menggabungkan kekuatan sosialisme dan kapitalisme, tanpa harus terikat secara kaku pada salah satunya.
"Sosialisme murni, kita melihat banyak peluang, dan banyak kasus orang tidak mau bekerja. Kapitalisme murni menghasilkan ketimpangan, menghasilkan hanya sebagian kecil yang menikmati hasil kekayaan," jelasnya.
"Namun jalan yang kita tempuh adalah jalan tengah. Kita ingin menggunakan kreativitas kapitalisme, inovasi, inisiatif, ya, kita membutuhkannya," tandas Prabowo.
Baca Juga:
Indonesia Masuk Board of Peace, DPR Nilai Diplomasi Prabowo Tepat Sasaran
Pandangan ini menjadi bagian dari diplomasi ekonomi Indonesia di panggung global, yang mengedepankan kedaulatan kebijakan dalam menghadapi tekanan arus ideologi ekonomi global.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.