WAHANANEWS.CO, Jakarta - Protes berskala nasional di Iran terus meluas seiring memburuknya kondisi perekonomian dan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah.
Untuk meredam gelombang demonstrasi, otoritas setempat memutus akses internet serta jaringan telepon di sejumlah wilayah, langkah yang dinilai semakin membatasi arus informasi dari dalam negeri.
Baca Juga:
Perang Iran Tanpa Pemenang, Posisi Netanyahu Dinilai Lemah
Aksi unjuk rasa ini kian menekan pemerintahan teokratis Iran yang masih menghadapi dampak konflik regional serta tekanan internasional, terutama terkait isu program nuklir.
Situasi tersebut memperburuk ketidakpuasan publik yang sudah lama terpendam akibat krisis ekonomi berkepanjangan.
Data Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat, lebih dari 500 aksi protes telah berlangsung di seluruh 31 provinsi di Iran.
Baca Juga:
Iran Ubah Selat Hormuz Jadi “Gerbang Tol”, Potensi Cuan Ratusan Miliar Dolar Dampak Perang Memanas, Iran Kenakan Tarif Kapal di Selat Hormuz
Dalam rangkaian demonstrasi tersebut, sedikitnya 65 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 2.300 lainnya ditangkap oleh aparat keamanan.
Di sisi lain, media pemerintah Iran hanya menyampaikan informasi terbatas mengenai situasi di lapangan.
Pembatasan ketat terhadap jurnalis, ditambah dengan pemutusan internet, membuat proses peliputan dan verifikasi informasi menjadi semakin sulit.