Kelompok Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) yang berafiliasi dengan Al Qaeda mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kondisi ini membuat janji Rusia untuk menstabilkan Mali mulai dipertanyakan.
Analis senior Armed Conflict Location & Event Data Project (ACLED), Héni Nsaibia, juga menilai strategi keamanan Rusia gagal menyelesaikan akar persoalan di Sahel. "Dukungan militer Rusia memang cepat, tetapi sangat sedikit mengatasi pendorong utama militansi seperti lemahnya tata kelola, korupsi, marginalisasi sosial-ekonomi, ketegangan etnis, dan rendahnya legitimasi negara," kata Nsaibia.
Baca Juga:
Putin Tetapkan Gencatan Senjata 2 Hari, Ukraina Diingatkan Soal Serangan
Selama ini Rusia memperluas pengaruh di Afrika melalui model kerja sama keamanan sebagai imbalan akses sumber daya alam. Pendekatan itu diperkuat lewat Grup Wagner yang aktif di Libya, Mozambik, hingga Republik Afrika Tengah.
Namun, transisi dari Wagner ke Korps Afrika belum mampu menghentikan meningkatnya ketidakamanan di Mali, Burkina Faso, dan Niger. Di tengah situasi tersebut, Mali bersama Burkina Faso dan Niger kini mulai mencari alternatif baru dengan memperluas kerja sama pertahanan ke negara seperti China dan Turkey.
[Redaktur: Alpredo Gultom]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.