Meski demikian, hingga kini Kementerian Luar Negeri Rusia maupun Kremlin belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pengerahan pasukan NATO ke Greenland.
Sikap dari kedua lembaga tersebut dinilai memiliki bobot politik lebih besar dibanding pernyataan yang disampaikan perwakilan diplomatik Rusia.
Baca Juga:
Wow! AS Siap Bayar Warga Greenland Hingga Rp 2,6 Miliar per Orang demi Lepas dari Denmark
Ketegangan di kawasan Arktik sendiri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring Rusia dan NATO sama-sama memperkuat kehadiran militernya di wilayah tersebut.
Perubahan iklim yang memicu mencairnya es laut turut membuka jalur pelayaran internasional baru serta peluang eksploitasi sumber daya alam, termasuk pertambangan, di kawasan Arktik.
Di sisi lain, pernyataan dan sikap Trump terkait Greenland disebut telah menimbulkan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya di internal NATO.
Baca Juga:
Klaim Tak Butuh Hukum Internasional, Trump Tegaskan Siap Pakai Kekuatan demi Kepentingan AS
Menurut Kedutaan Rusia, perbedaan pandangan di antara negara-negara anggota NATO mengenai Greenland membuat kemampuan aliansi itu mencapai kesepakatan bersama menjadi semakin tidak dapat diprediksi.
Isu Greenland kini menjelma sebagai simbol baru ketegangan geopolitik di Arktik, dengan kepentingan keamanan, ekonomi, dan rivalitas kekuatan besar saling bertumpang tindih di kawasan yang kian strategis.
[Redaktur: Rinrin Khaltarina]
Ikuti update
berita pilihan dan
breaking news WahanaNews.co lewat Grup Telegram "WahanaNews.co News Update" dengan install aplikasi Telegram di ponsel, klik
https://t.me/WahanaNews, lalu join.