WAHANANEWS.CO, Jakarta - Ketegangan antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutu NATO memanas setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras kepada negara-negara Eropa yang menolak memberikan akses pangkalan militer untuk menyerang Iran.
Pernyataan tajam itu disampaikan Trump saat bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Kamis (6/3/2026), sebuah momen yang sekaligus memperlihatkan retaknya hubungan Washington dengan beberapa mitra pentingnya di Eropa di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga:
Beda Nada dengan Trump, Pentagon Sebut Serangan ke Khamenei Dilakukan Israel
Dalam pertemuan tersebut, Trump terlihat kesal ketika membahas sikap sejumlah negara NATO yang menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militer mereka untuk operasi militer terhadap Iran.
Ia secara khusus menyoroti Spanyol yang dinilai tidak kooperatif dalam mendukung langkah militer Washington.
Trump bahkan mengancam akan memutus seluruh hubungan dagang dengan negara tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap sekutu yang dianggap tidak membantu Amerika Serikat.
Baca Juga:
AS Bersiap Perbesar Serangan ke Iran tapi Stok Rudal Menipis
“Memutus semua perdagangan dengan Spanyol,” ancam Trump.
Menurut Trump, sejumlah sekutu Eropa selama ini juga dinilai tidak memberikan kontribusi yang cukup terhadap belanja pertahanan NATO.
Ia menilai sikap negara-negara tersebut menunjukkan kurangnya dukungan terhadap kebijakan keamanan yang diambil Washington.
Selain Spanyol, kritik tajam juga diarahkan kepada Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang menolak memberikan izin penggunaan pangkalan militer Inggris pada gelombang pertama serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).
“Inilah yang kita hadapi, ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” sindir Trump mengenai pemimpin Partai Buruh Inggris tersebut.
Penolakan London itu kemudian memicu perang kata-kata antara kedua pemimpin negara yang selama ini dikenal memiliki hubungan cukup dekat.
Dalam pidatonya di parlemen Inggris, Starmer secara terbuka mengecam serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat dan sekutunya ke wilayah Iran.
“Pemerintah ini tidak percaya pada perubahan rezim dari langit,” tegas Starmer.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah Inggris tidak akan mendukung strategi militer yang bertujuan menggulingkan pemerintahan negara lain melalui serangan udara.
Adalah kewajiban pemerintah Inggris untuk menentukan kebijakan luar negeri berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri, termasuk dalam menghadapi konflik di Timur Tengah.
“Adalah tugas saya untuk menilai apa yang menjadi kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan. Dan saya berdiri teguh pada keputusan itu,” ujar Starmer.
Pidato tersebut bahkan disebut sejumlah pengamat sebagai momen “Love Actually”-nya Starmer, merujuk pada adegan film ketika Perdana Menteri Inggris yang diperankan Hugh Grant berani menentang presiden Amerika yang dianggap menekan negaranya.
Pernyataan keras Trump dinilai banyak pihak sebagai pukulan serius terhadap hubungan Anglo-Amerika yang selama puluhan tahun dikenal sangat erat.
Padahal sebelumnya hubungan antara Starmer dan Trump disebut cukup hangat, bahkan keduanya sempat merencanakan kunjungan kenegaraan dengan jamuan makan malam resmi yang akan digelar oleh Raja Inggris di Kastil Windsor.
Sumber yang mengetahui hubungan kedua pemimpin tersebut menyebut keduanya sebenarnya masih sering berkomunikasi melalui telepon dalam beberapa pekan terakhir.
Namun ketegangan terbaru ini dinilai memperlihatkan adanya retakan serius dalam hubungan diplomatik kedua negara.
Menurut Lew Lukens, mitra senior di Signum Global Advisors sekaligus mantan kuasa usaha Kedutaan Besar AS di London, situasi ini bisa menjadi salah satu titik paling rendah dalam hubungan kedua negara dalam beberapa waktu terakhir.
“Saya pikir hubungan ini berada pada titik terendah dalam sejarah terbaru — mungkin harus kembali ke masa ketika Reagan menginvasi Grenada tanpa memberi tahu Thatcher terlebih dahulu,” ujarnya.
Meski begitu, Lukens meragukan Trump benar-benar akan melakukan pembalasan nyata terhadap Inggris karena kerja sama kedua negara masih sangat penting dalam operasi militer di Timur Tengah.
Ia menilai Amerika Serikat tetap membutuhkan dukungan intelijen dan kerja sama pertahanan dari Inggris dalam menjalankan operasi terhadap Iran.
“Pada akhirnya, AS membutuhkan kerja sama pertahanan dan dukungan intelijen Inggris saat melaksanakan serangannya terhadap Iran,” katanya.
Di dalam negeri Inggris sendiri, keputusan Starmer menolak penggunaan pangkalan militer memicu reaksi beragam dari publik dan kalangan politik.
Sebagian pihak terkejut dengan sikap tersebut mengingat hubungan personal Starmer dan Trump sebelumnya disebut cukup baik.
Namun tidak sedikit pula yang justru memuji langkah tersebut karena dianggap berani menahan Inggris agar tidak terlibat dalam konflik militer baru di Timur Tengah.
“Saya bukan penggemar Keir Starmer,” tulis komentator Inggris James Melville di media sosial.
Tetapi menurutnya keputusan tersebut layak dihargai jika benar-benar mampu mencegah Inggris terseret ke dalam perang yang berpotensi membawa dampak besar bagi kawasan tersebut.
“Tetapi jika dia berdiri melawan Trump dan mencegah Inggris masuk ke konflik militer lain yang berpotensi menjadi bencana di Timur Tengah, dia akan mendapatkan rasa hormat untuk itu,” imbuhnya.
[Redaktur: Elsya Tri Ahaddini]