WAHANANEWS.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran pada Selasa, (07/04/2026).
Keputusan ini membatalkan ancaman serangan masif yang sebelumnya ia lontarkan, hanya kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu bagi Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz berakhir.
Baca Juga:
AS dan Iran Gencatan Senjata, Respons Israel Katakan Ini!
Mengutip Reuters, Trump menyatakan bahwa kemajuan besar dalam komunikasi antar kedua belah pihak menjadi alasan utama dirinya bersedia menunda aksi militer. Ia mengklaim telah menerima proposal perdamaian dari pihak Iran yang dianggap masuk akal untuk didiskusikan lebih lanjut.
"Iran telah mempresentasikan proposal 10 poin yang merupakan dasar yang bisa dikerjakan untuk negosiasi. Saya mengharapkan kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan disempurnakan selama jendela waktu dua minggu ini," kata Trump, melansir CNBC Indonosia.
Pengumuman ini menjadi sorotan tajam lantaran beberapa jam sebelumnya, Trump sempat mengeluarkan gertakan keras melalui media sosial. Ia memperingatkan akan menghancurkan seluruh infrastruktur sipil Iran jika tuntutannya tidak dipenuhi, dengan menyebut bahwa sebuah peradaban utuh akan mati malam ini. Namun, sikap tersebut berubah total saat ia memastikan bahwa gencatan senjata akan berlaku secara timbal balik.
Baca Juga:
Harga Emas Naik Lagi, Pagi Ini Sudah Melonjak 2% ke US$4.800
"Ini akan menjadi gencatan senjata dua sisi! Alasan melakukannya adalah karena kita telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, dan sudah sangat jauh menuju kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah," tulis Trump dalam unggahannya di platform Truth Social.
Trump menambahkan bahwa kesepakatan menit-menit terakhir ini sangat bergantung pada kepatuhan Iran untuk segera menghentikan blokade pasokan minyak dan gas di Selat Hormuz. Jalur tersebut sangat krusial karena menangani sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dunia.
Merespons sikap terbaru Gedung Putih, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan kesiapan pihaknya untuk meredakan ketegangan. Ia memastikan bahwa jalur pelayaran internasional yang sempat terganggu akan kembali dibuka sesuai dengan kesepakatan tersebut.